—Keikhlasan Ayah—

Blogged under renungan by sinthionk on Monday 1 September 2008 at 10:02 pm

Ramai, sangat ramai. Suara kesibukan berebut masuk ke telingaku, terus menerus berusaha mengganggu kesendirianku. Namun….suara-suara itu tak pernah sampai ke dalam kepala, semua lewat tanpa memberi kesan.

Aku tak peduli dengan segala kebisingan di luar sana. Aku hanya merasakan, kepalaku telah penuh sesak dengan keriuhan diri. Jantung berdetak kencang, nafas berat berkali-kali terhembus, jemari pun mulai gelisah memainkan ujung jilbab. Hati ingin sekali menari, tapi kegelisahan terus menyelimuti pikiran dan hati.

Mataku menatap wajah-wajah riang penuh tawa yang tergambar pada bingkai foto yang menghiasi tembok kamar, kenanganku bermain di pantai bersama kedua adikku. Keriangan tergambar jelas, aku berusaha menularkan keriangan itu ke dalam kalbuku, namun sekali lagi… Hah, desah nafas kembali terhembus. Debar masih merajai diri.

Besok statusku akan berubah, Besok seorang pria akan memboyongku, besok kehidupanku akan berganti, besok aku akan menjadi seorang pengabdi suami, aku bukan lagi wanita ‘bebas’. Besok…ya besok, kehidupanku akan mengalami perubahan drastis.

Aku terdiam di tepi tempat tidur, tetap sibuk dengan keriuhan duniaku.

***

Kehadirannya membuyarkan segala keriuhanku. Sesosok pria berdiri di pintu kamarku. Tinggi-gempal, raut muka yang tak bisa dikatakan ramah dengan tatapan mata elangnya tak jarang membuat gelagapan lawan bicara. Sosok paruh baya yang telah mewarnai hidupku selama 25 tahun.

Bibirku tersenyum membalas tatapannya. Sebuah tatapan ber’warna’ sayang berbaur dengan keengganan. Akhirnya senyum wibawa terulas di bibir hitamnya. Beliau menghampiri dan duduk disampingku. Sekali lagi aku tersenyum di raut wajah manjaku.

“Besok putri Ayah akan menjadi milik orang lain…besok Ayah akan melepasmu Nak,” sebuah senyum dipaksakan hadir. “Kau tahu?! Ini salah satu keikhlasan terberat Ayah, keikhlasan untuk menyerahkan putri ayah kepada orang lain” Aku menangkap pergulatan di mata Ayah, mata yang mulai berkaca-kaca namun tak ingin melepaskan linangannya. Ayah berusaha tegar. Tangan kekarnya memeluk pundakku. “Nak, jaga diri baik-baik. Iringi setiap langkah suamimu, karena istri adalah tongkat suami.”

Tak banyak kata yang terurai dari Ayah, hanya sebuah pelukan yang semakin erat.

***

Mataku tak sanggup menahan air mata, menatap jabatan erat Ayah kepada suami saat kalimat akad terucap.
“Aku titipkan putriku padamu”

*Congrat’s to my sist ‘n thx for u’r story
Rancabolang, Sya’ban 1429H

Hati Telah Mati!!

Blogged under puisi, renungan by sinthionk on Monday 1 September 2008 at 10:01 pm

Apa yang terjadi dengan Hati?

Hati tak menangis

saat tak berjumpa dengan Sholat

Hati tak merasa kehilangan

saat tak bersentuhan dengan Alqur¢an

Hati tak pedih

saat tak bersahabat dengan Dzikir

Apa yang terjadi dengan Hati?

Apakah Hati telah kehilangan hati?

Apakah Hati sedang sakit?

Apakah Hati bercinta dengan yang lain?

Apakah Hati mulai buta?

Kenapa Hati jadi dipenuhi bercak-bercak hitam?

Kenapa Hati jadi berbau busuk?

kenapa Hati jadi beku dan keras?

Apa yang terjadi dengan Hati?

Hati telah mati!

-Meteor Utara, Shafar 1429H-

Bumi Butuh Minum

Blogged under berpikir sejenak, renungan by sinthionk on Monday 21 July 2008 at 1:02 am

—Salah satu tulisan lawas jaman kuliah—

Bumi Butuh Minum

“Panas banget !!” gerutuku sambil berjalan menuju tempat mangkal angkutan MM. Begitu sampai di lokasi, mataku menemukan satu angkutan sedang menanti penumpang. Di dalam hanya terlihat sang sopir sedang duduk santai di balik kemudi.

“Waduh, bakal lama neh?!”

Namun apa lah daya. Hari ini kakiku tak menunjukkan persahabatan dan tak rela sekedar diajak jalan beberapa meter ke depan untuk mendapatkan angkutan yang langsung jalan.

“Tak apalah,” aku pun mengambil posisi wenak di sebelah sopir.

”Pak, ini nanti lewat Ringin ya?” tanyaku kepada Pak Sopir.

”Iya Mbak”

”Nanti saya diturunkan di situ ya Pak”

”Lho…baru pertama kali Mbak”

”Hehehe…iya Pak,” jawabku.

”Emang orang mana?”

”Malang”

Terlihat wajah Pak Sopir memancarkan pandangan tak percaya. Aku hanya bisa menafsir bahasa wajahnya berbicara, ”beneran nih Malang?! Koq gak meyakinkan gini.”

Hehehe….

Tak berapa lama seorang ibu masuk ke angkutan mengambil posisi persis di belakang Pak Sopir.

”Alhamdulillah…nambah juga,” batinku.

”Koq macet ya Pak di sana,” kata di Ibu sambil mengarahkan pandangan ke jalan menuju Pasar Besar.

”Biasalah Bu wajar kalau macet, lha wong mau lebaran”

Dari arah berlawanan muncul rombongan mobil pejabat.

”Nah, ini juga suka bikin macet,” kata Pak Sopir tersenyum.

”Iya Pak, mobil pejabat lewat, koq kita jadi ikutan susah. Iya kan mbak?” tanya sang ibu kepadaku.

Aku bisa tersenyum mempertontonkan gigi —nyengir mode on—

”Kalau di Singapura mbak, ada jalan khusus untuk pejabat. Jadinya gak ada yang namanya macet-macetan,” lanjut sang Ibu, ”trus mbak, jalannya itu bersiiiiihhhh. Kalo sampeyan buang sampah pasti langsung ketangkep, karena ada kamera di mana-mana.” Walaupun aku gak tau rupa Singapura kayak apa, aku mendengarkan sambil ngangguk-ngangguk sok ngerti. Kesian si Ibu sudah semangat banget ceritanya.

Tiba-tiba Pak Sopir ikut nimbrung, ”Kenapa peraturan pemerintah seringkali merusak lingkungan?” Telingaku beralih ke Pak Sopir ”Kenapa Pak?”

”Mbak lihat, jalan-jalan sudah penuh di aspal, terus air ini mau dikemanakan?” protes Pak Sopir sambil melihat ke depan, melihat jalan panjang beraspal. Kering. Panas.

”Kan ada selokan Pak,” jawabku tanpa berpikir.

Si bapak tersenyum, ”Mbak, air itu harusnya diresapkan bukan dibuang” Plak…Sarjana Pengairan tertampar omongan Sopir Angkutan. Konsep yang seharusnya ada di kepalaku malah terlontar mulus dari mulut polos Bapak Sopir. *Gratis satu tonyoran buat Sinta*

”Bukankah lebih baik kalo jalan raya ini dibuat bentuk makadam? Jadi air masih bisa meresap”

”Lah Pak, klo dimakadam nanti jalannya gak nyaman donk”

Kembali si Bapak mengeluarkan senyum mautnya, ”Teknologi sudah canggih Mbak, batu kali bisa diratakan dan lagi beberapa tahun ke depan jalan akan ditumbuhi rumput untuk menutup celah bebatuan, lalu jadilah jalan alami. Tinggal perawatannya dimaksimalkan.”

Glek. Aku termenung, pemikiran yang maju ke depan. Aku yang sedang muter-muter di sekolah yang katanya maha, gak kepikiran sejauh itu.

Si Bapak tersenyum melihat aku terdiam, ”Bumi butuh minum Mbak.”

* ditulis di hari sang sarjana bertekuk lutut di hadapan sopir angkutan. Blek!

Malang, Ramadhan 1428H

[resensi buku] Retno

Blogged under resensi buku by sinthionk on Monday 21 July 2008 at 12:58 am

[resensi buku] Retno

 

Judul Buku: Retno

Penulis: Sakti Wibowo

Editor: Agus Wibowo

Penerbit: Syaamil

Cetakan: Pertama, September 2002

Tebal: 150 halaman

 

Sabar itu tak terbatas, namun kesabaran manusia lah yang memiliki batas. Begitu pun dengan Retno, sosok muslimah yang harus berjuang menjadi tulang punggung keluarga, sosok yang harus menggantikan peran suami akibat terkena PHK. Pontang-panting sebagai buruh pabrik tekstil dengan gaji minimalis membuat kepalanya tak henti berdengung.

 

Hampir seperempat jumlah gaji itu ia habiskan untuk membayar kontrak ruang multifungsi ini. Jumlah yang sama harus ia keluarkan untuk memenuhi tuntutan perut…..Lantas untuk sisanya, ia telah begitu banyak pos pengeluaran yang menunggu. Uang susu Shandy maupun kebutuhan-kebutuhan insidental yang makin menenggelamkan harapannya….Kataraks ini, entah mau berdamai dengannya atau tidak.

 

Tuntutan terus menerus bertumpuk, seakan tak memberi sang manusia untuk menghela nafas sejenak. Retno semakin lelah dengan kondisi yang melingkupi hidupnya. Akhirnya kelelahan membuatnya mengambil keputusan nekat untuk mengadu nasib ke Ibu Kota, demi memenuhi kebutuhan Shandy, sang buah hati hasil dari pernikahan kilatnya dengan Hernowo. Pernikahan yang masih menyisakan banyak masalah.

 

***

 

Jakarta. Kota berlabel harga tinggi. Harga yang membuat Retno kembali tertatih-tatih menjalani kehidupannya

 

Dua minggu bekerja, Retno menerima gaji pertamanya. Namun ia tertegun dan hampir menangis memandang angka yang tertera di slip gaji itu. Bagaimana ia akan mengatur keuangannya?Angka itu memang melebihi sebulan gaji di pabrik tempat ia bekerja sebelumnya. Tetapi biaya hidup di Solo dan Jakarta sangat jauh berbeda.

 

Gurat kelelahan semakin jelas terlukis di raut wajahnya…Lelah…

 

Buku dengan sampul sederhana bergambar sketsa muslimah yang berlatar atap joglo ini, termasuk novel yang sarat konflik. Sejak membuka halaman pertama sampai akhir, penulis mempersembahkan konflik-konflik dan kejutan-kejutan. Pengabdian seorang istri, agama versus adat istiadat, pergulatan hidup, penyakit katarak, love story, penghamba diri padaNya mewarnai tiap lembar buku. Selain itu latar belakang penulis yang berasal dari Wonogiri membuat gaya bahasa jawa dalam buku ini terasa nyaman dan tidak kaku.

 

Tapi, terdapat beberapa kesalahan penggunaan kata dalam buku ini, terutama penggunaan kata acuh yang masih diartikan sebagai tidak peduli.

 

Okay…sekian resensi kali ini. Kalo ada yang berminat dengan bukunya, peresensi bersedia meminjamkan dengan tarif per jamnya …. halah :p

 

Rancabolang, Rajab 1429H

Salam,

-penikmat buku-

Kata-kata Berjiwa

Blogged under iseng, tanya?! by sinthionk on Thursday 17 July 2008 at 11:37 am

Kutemukan sebuah dunia kata di salah satu tapak kehidupanku. Awalnya aku kira dunia itu berisi kata-kata imajinatif, angan-angan, dongeng, fiksi. Namun, semakin dalam aku terjerumus. Kutemukan jiwa di balik kata-kata yang berderet, jiwa yang benar-benar nyata. Jiwa yang berasal dari hati.

Aku takjub saat kata-kata itu mengeluarkan senyum, tangis, amarah, tawa, kesakitan. Tak jarang aku turut hanyut dalam aliran emosinya. Amazing!!

Kembali aku memekik “Great!!” Saat kata-kata itu membangkitkan kata-kata yang lain, kata-kata yang ikut merasakan, membalas dengan semangat, pelukan, keramaian, canda.

Kehangatan. Ya, kehangatan benar-benar terpancar dan mengalir dari barisan kata. Bahkan seringkali aku tak sanggup menampung alirannya yang membanjir.

Inilah dunia kataku, tempat sebagian hatiku tertambat.

NB: hehehe…moga yang baca gak pusing ^_^

Rancabolang, Rajab 1429H

[cerita] Ok Sin…Do It!!!

Blogged under kisah hari ini, semangat..!! by sinthionk on Thursday 17 July 2008 at 7:44 am

Tuh, bisa kan jadi juri :)”

Bibirku membentuk cengiran selepas membaca reply message di gmail.

Kepalaku segera melakukan flash back

“…btw, dirimu bersedia tdk jd juri SK Idol di tahap 2……”

Sebuah SMS dari rangkaian SMS yang mengiringi perjalanan pulangku dari Jakarta ke Bandung itu cukup membuat mataku terbelalak.

Sinta? Juri? Emang dah pantes?” balasku.

Yup…Emang udah pantes? Pertanyaan ini berhasil menduduki rangking tertinggi di kepalaku. Aku bukan orang yang PeDe, yang dengan mudah menerima hal yang masih asing di hidupku. Aku selalu membutuhkan alasan—baca: keyakinan diri—untuk memberi jawaban, dan bisa dipastikan jawaban “iya” terasa lebih susah dilafalkan dibanding “tidak”.

—Applouse untuk sang calon bapak yang selalu berhasil dengan sabar mengemukakan alasan-alasan yang membuat kepalaku berpikir—

Jariku mulai bergerak perlahan pada tuts hape

Oke, aku maksimalin deh”

Keputusan yang didapatkan setelah berhasil berjuang menyudutkan keraguan.

Ujian untuk ke-PeDe-anku gak berhenti sampai di situ. Kembali mataku tertabrak dengan kalimat Dewan Juri —kenapa harus pake kata DEWAN?!— Hiiii…baca dua kata ini buat aku bergidik. Rasanya tambah berat aja. Sebuah amanah yang gak gampang, bahkan sangat sulit—apa lagi buat manusia baru model aku—Pengalaman pertama!! Bersanding dengan nama-nama yang sudah tidak asing di dunia penulisan!! HUAAAAA…Gak PeDe!!! Lagi-lagi aku mulai gak yakin dengan diri sendiri. “Ya Allah…wat hepen aya naon ini”

Aku berusaha menarik-hembuskan nafas dengan perlahan—caraku menetralisir suasana jiwa yang lagi riweuh—Oke Sin…Do It!! Jangan sia-siakan kesempatan Dan ingat!! Ramu kesempatanmu menjadi salah satu pelajaran terbaik.

***

Aku mulai berhadapan dengan 8 naskah tulisan—yang menjadi salah satu tahap penilaian SK Idol—dengan karakter yang bermacam-macam. Delapan tulisan yang membuat aku melengkungkan bibir ke atas, namun tak jarang turun ke bawah diiringi mata berkaca. Delapan tulisan yang juga membuat aku menaikkan salah satu alisku, namun tak jarang kedua alisku naik bebarengan menatap gak percaya. Ekspresif!!

Mungkin untuk yang sudah berpengalaman, menilai 8 naskah terasa ringan cukup melirik sekilas. Sett…kelar deh. Tapi itu gak berlaku buat aku, tangan menopang dagu, posisi duduk berpindah-pindah, garuk-garuk kepala, keluar masuk kamar karena capek duduk. Glek…stress dah!

***

Bersikap Netral…

Susyeh…itu yang terasa saat harus bersikap netral dengan ke-8 naskah, mengingat kalau naskah-naskah itu di tulisan oleh orang-orang yang sering berkeliaran di sekolahku bahkan juga di hidupku. Bersikap netral—tanpa membawa perasaan persahabatan—saat melakukan penilaian bukan hal mudah. Berkali-kali aku harus terdiam, memejamkan mata untuk memfokuskan kepala pada naskah bukan penulisnya. Sekali!! mata terpejam, focus…focus… Dua!! terpejam lagi, sinta jangan mikir yang lain!! Tiga!! terpejam lagi, suara dengkur halus terdengar, ups…aku ketiduran hehehe…

Berpikir bijak…

Bijak?! Aih…mendengar kata yang satu rasanya berat pisan. Dan kalau dilihat lagi hasil penilaianku, kayaknya poin yang satu ini masih jauh. Hampir di semua naskah, penilaianku 100% mengalir langsung dari kepala ke jemari tanpa melewati saringan kata. Dan itu artinya, semua penilaian blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Padahal penilaian (baca: kritik) naskah haruslah bisa membangun sang penulis—kata temenku ;p—

So…kayaknya aku harus sering-sering belajar menilai tulisan dengan baik dan benar sebelum dapet tawaran jadi juri lage….iiiihhh…kalo yang ini ke-PeDe-an!!!

Buat para nominator, kalian semua huebat, jempol deh buat kalian

*ditulis setelah perjuangan mencerna 8 tulisan yang ditulis dengan indah

Rancabolang, Rajab 1429 H

Salam,

Sinta

Lah Ancen Basa-basi?

Blogged under iseng by sinthionk on Saturday 5 July 2008 at 1:17 am

“Basa-basi banget”
Komentar ini yang selalu muncul setiap kali team leader (sebut: bos k2) berbasa-basi menanyakan kerjaan kita atau saat mengajukan pertanyaan yang berujung dengan permintaan tolong.
“Lagi sibuk gak?” kalimat ini menandakan bos akan meminta tolong sesuatu.
“Gak pulang?” kalimat ini menunjukkan bos minta dianter naik sepeda ke terminal.
“Besok sibuk gak?’ kalimat ini mengartikan besok disuruh lembur.
Hehehe…sampe hapal deh semua orang.

Hari ini—jum’at, jadwal muncul di kantor—bos k2 datang dengan salamnya yang bisa diartikan sebagai “Aku datang!”

Pandangan penuh arti dilemparkan Glen (temen semeja) ke arahku.
“Hehehe…it’s your time” mengingat minggu kemarin dia udah di’tindas’ ma team leadernya. Bos k2 adalah team leader untuk proyek yang aku kerjakan. Kedatangannya adalah pertanda aku akan mendapat banyak tambahan kerjaan yang jadi cikal bakal nambahnya minus kacamataku gara-gara nongkrongin layar komputer.
“Sin, dah sampai mana kerjaannya?” Yup, ini lah kalimat sapa yang selalu dilontarkan di setiap awal pertemuan. Aku pun menjawab dengan seadanya, dan masukan yang diberikan padaku? Pengulangan dari kata-kataku sendiri. GLODAK!!!

Setelah menuangkan ‘ide brilliant’-nya, bos k2 pindah ke meja sebelah.
“Lagi ngerjain apa Glen?”
“Lapdal pak!” dengan headset masih tertancap di telinganya. Jawaban singkat yang berujung dengan petuah-petuah yang sebenarnya agak telat mengingat petuah yang diberikan adalah dasar-dasar pengerjaan laporan.

“Jum’atan…Jum’atan,” ujar beliau sambil berjalan keluar. Posisiku yang berada di dekat jendela memungkinkan untuk melihat bos sudah keluar untuk jum’atan. Tampak si bos berdiri di pagar menanti personil lain.
Segera aku menarik baju glen,
“hey…” dia segera melepas headsetnya
“awakmu mau jawab’e kebanteren” (kamu tadi jawabnya kekerasan)
“Opo seh mbak?”
“Iku…pas ditakok i lagi lapo?” (itu…pas ditanyain lagi ngapain)
“hah…iyo tah?”
“Yoooo….”
“Gak sengojo mbak, lagian yo basa-basi!!” jawabnya dengan santai. (gak sengaja mbak lagian ya basa-basi)

“Ayo…jum’atan”
Hah, kita berdua tersentak. Bos masih ada di kantor!!

Glen melempar pandangan shock ke arahku, dan aku pengen nglempar sandal ke arahnya. Cukup dengan saling lempar terjadi komunikasi terselubung di muka kita

Muka Glen (MG): “Sejak kapan dia masuk lagi ke kantor?”
Muka ku (MK) :“Meneketehe”
MG : “Aduh…denger omongan kita gak?”
MK : “Meneketehe”
MG : “Kapan dia masuk kantor?”
MK : “Meneketehe”

HUAAAAA……

Meteor Utara, Rajab 1429H

Mata dan telingaku tergoda

Blogged under review, berpikir sejenak, what happen? by sinthionk on Saturday 28 June 2008 at 1:53 am

Saat aib-aib dengan nyamannya keluar dari setiap mulut manusia

Saat manusia mulai menikmati setiap aib yang tersebar di mana-mana

Apakah manusia telah lupa kalimat cinta dariNya

Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib-aib orang lain. (HR. Ad-Dailami)

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” Riwayat Muslim.

*saat mata dan telinga mulai tergoda gosip

Meteor Utara, Jumadil Tsaniyah 1429 H

[inspirasi] Tak Hanya Andrea Hirata yang punya Guru Keren

Blogged under renungan by sinthionk on Saturday 28 June 2008 at 1:47 am

Inilah Guru teladan yang perlu dicontoh

 

Oleh Masuki M. Astro

 

 

Mengajar dan Memandikan Murid Setiap Pagi

Bondowoso, (ANTARA News) - Kalau Pulau Belitung memiliki guru Muslimah yang sangat menginspirasi murid-muridnya sebagaimana ditulis Andrea Hirata dalam novel “Laskar Pelangi”, di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur tidak sedikit pengajar pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang memiliki semangat setinggi Muslimah.

Salah satunya adalah, Wiwik Susianti (36), pengelola sekaligus pengajar PAUD Nusa Indah I dan II di Dusun Karang Tengah, Desa Sumber Sari, Kecamatan Maesan.

Muslimah dengan Wiwik sama-sama memiliki semangat tanpa pamrih untuk mencerdaskan anak-anak di desanya. Bukan kebetulan kalau keduanya memiliki beberapa kisah sama dalam perjuangannya.

Keduanya sama-sama menekuni usaha menjahit untuk mendapatkan penghasilan.

Dengan hanya mengandalkan honor Rp50.000 setiap bulan dari Dinas Pendidikan, tidak cukup bagi Wiwik untuk membantu pendapatan suaminya, Razak yang hanya bekerja sebagai petani.

Jika Andrea Hirata begitu berkesan melihat Bu Muslimah datang ke sekolah di tengah hujan lebat berpayungkan daun pisang, Wiwik juga pernah menjalani lakon “heroik” seperti itu.

“Saat itu saya pulang dari mengajar berjalan kaki bersama anak saya. Tiba-tiba turun hujan lebat. Untung saat itu saya membawa silet sehingga mudah memotong daun pisang untuk payung melindungi anak saya,” cerita Wiwik.

Wiwik yang hanya lulusan SMP dan Kejar Paket C itu mengajak ANTARA untuk menyusuri jalan setapak di pematang sawah kemudian melingkari bukit sekitar 2,5 kilometer dari rumah menuju sekolahnya.

Satu hal yang membuat perjuangan Wiwik lebih berat dari Muslimah adalah karena ia mendidik anak-anak kecil yang setiap pagi sekitar pukul 05.30 WIB ditinggal oleh ibu-ibu mereka untuk bekerja sebagai buruh di gudang tembakau.

Kalau setiap pagi Muslimah menghadapi 10 anggota Laskar Pelangi di SD Muhammadiyah dalam keadaan bersih, tidak demikian dengan Wiwik. Ia berhadapan dengan anak-anak ingusan yang betul-betul datang ke sekolah masih dengan wajah beringus.

“Anak-anak itu bangun dan berangkat sendiri ke sekolah dengan pakaian yang dipakai saat tidur. Karena itu saya memandikan mereka sebelum belajar dimulai,” katanya.

Ia juga mencukur rambut mereka pada hari Jumat karena jam belajarnya lebih pendek dari hari biasanya kegiatan mencukur bisa berlangsung dari pukul 07.30 hingga pukul 10.00.

Dari rumah Wiwik sudah mempersiapkan sabun, bedak dan sisir untuk merawat anak-anak asuhnya itu. Ia “menggiring” mereka ke sebuah kolam kecil sekitar 20 meter arah selatan dari lokasi sekolah PAUD Nusa Indah I.

Perempuan berjilbab itu mengaku senang dan tidak terbebani dengan pekerjaan gandanya. Ia mengaku merasa bahagia karena telah berbuat sesuatu untuk orang lain, meskipun bagi orang lain dinilai sepele.

“Saya justru heran dengan orang kaya yang tidak pernah peduli kepada orang lain, khususnya anak-anak yang terlantar karena tidak sekolah,” katanya.

Ia tidak menuntut banyak kepada para orangtua murid. “Mereka mau menyekolahkan anak-anaknya saja sudah bagus,” katanya.

Wiwik tergerak mengajar setelah sebelumnya sering melihat anak-anak kecil usia tiga hingga enam tahun bermain di bawah bukit saat jam sekolah.

Melihat itu ia bertanya kepada para orangtua di Dusun Karang Tengah yang membiarkan anak-anaknya tidak bersekolah.

“Saat itu tahun 2004. Orangtua mereka menjawab, karena di TK biayanya mahal dengan iuran Rp5.000 setiap bulan maka mereka tidak mampu menyekolahkan anak. Untuk masyarakat buruh dan petani, uang sebesar itu mahal karena masih ada beban untuk seragam dan lainnya,” katanya.

Keadaan itu membuatnya berfikir untuk mendirikan PAUD. Sekitar satu bulan ia berkomunikasi dengan orangtua di dusun tersebut berbicara mengenai kemungkinan mendirikan sekolah nonformal bagi anak-anak.

Setelah para orangtua setuju, membuka PAUD yang biayanya lebih murah dari TK, maka Wiwik mulai mencari tempat.

Ditemukanlah musalah berukuran sekitar 4 x 4,5 meter milik Muallim, yang dapat dipakai. Ia membulatkan tekadnya untuk mengajar anak-anak dan mengambil keputusan meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang atau buruh batik.

PAUD Nusa Indah I berdiri April 2004 dengan murid angkatan pertama 27 orang. Wiwik mulai mengajar sendiri anak-anak itu, Kamis, 14 April 2004 atau tiga hari setelah anak pertamanya ulang tahun.

Ia mengajar tanpa sedikitpun bekal pengetahuan di bidang pendidikan untuk mendidik anak-anak usia dini tersebut.

“Saya hanya belajar dari melihat guru TK anak saya. Setiap ngantar anak sekolah, saya perhatikan bagaimana gurunya mengajar. Hanya ilmu itu yang saya gunakan awal-awal mengajari mereka,” katanya.

Keterbatasan fasilitas tidak menjadi hambatan baginya. Hingga saat ini sekolah itu tidak memiliki alat permainan edukatif (APE) apapun sebagaimana layaknya pendidikan prasekolah.

“Dulu pernah mendapat bantuan gambar-gambar, tapi sekarang sudah rusak. Jadi saya mengajari mereka hanya dengan doa-doa, menari dan pengenalan huruf karena sebelum masuk SD sekarang ini anak-anak dituntut bisa membaca,” katanya.

Uang Habis, Jalan Kaki

Meskipun awalnya suami Wiwik sempat menyetujui ia mengajar, namun karena penghasilannya yang hanya Rp50.000 setiap bulan, Razak sempat mempertanyakan pilihan isterinya itu. Apalagi untuk menuju ke sekolah ia juga sering naik ojek.

“Waktu itu ojeknya Rp4.000 pulang pergi selama lima hari dalam satu minggu. Karena honor itu tidak cukup, saya sering jalan kaki. Karena malu dilihat orang, saya memilih jalan kaki melewati sawah-sawah dan perbukitan yang jaraknya bisa mencapai 2,5 kilometer,” katanya.

Karena merasa kewalahan mengajar sendiri, pada akhir 2005, ia dibantu Imam Ryan Hidayat, adiknya. Maka, honor yang Rp50.000 pun dibagi dua dengan Imam karena tidak mudah mendaftar guru baru langsung mendapatkan insentif dari dinas pendidikan setempat.

Meskipun demikian, ia tidak patah semangat. Bahkan, agar anak-anak asuhnya tidak kurang pergaulan, setiap ada perlombaan di kecamatan, Wiwik selalu berusaha mengikutkan mereka, seperti karnaval.

Mengenai biayanya, ia mencari sendiri karena tidak mungkin meminta orang tua siswa yang sudah dibebani iuran Rp1.500 setiap bulan dan sejak dua tahun lalu sudah dinaikkan menjadi Rp2.000.

“Untuk ikut lomba, uang Rp200.000 tidak cukup. Akhirnya saya ngebut mengerjakan jahitan untuk menutupi kebutuhan anak-anak itu,” katanya.

Melihat kegigihan istrinya yang memang tidak bertujuan untuk mencari materi, akhirnya Razak bisa menerima kenyataan tersebut.

“Namanya rezeki itu kan tidak hanya dari itu. Mungkin barokahnya yang didapat dari mengajar anak-anak,” kata Razak.

Tidak hanya untuk anak-anak, pada pertengahan 2005, Wiwik kemudian memberikan sebagian hidupnya dengan mengajari para orangtua yang buta huruf lewat program kebutaaksaraan fungsional (KF).

Pengorbanan besar itu bukannya berjalan dengan puja-puja. Tidak jarang ia mendapatkan fitnah dari orang-orang tertentu. Peristiwa paling berat ia rasakan saat seorang anak didiknya tiba-tiba mogok belajar.

“Awalnya saya biarkan, tapi setelah satu minggu tidak masuk saya datangi ke rumahnya. Aneh, orangtua anak itu terlihat tidak enak melihat saya. Saya tanya mengapa anaknya tidak masuk, dia menjawab tidak ada apa-apa, tapi saya merasakan ada sesuatu,” katanya.

Akhirnya ada warga lain yang memberitahu bahwa orangtua anak itu marah karena mendapat kabar bahwa hadiah lomba membaca puisi berupa sepeda pancal untuk anak-anak telah diambil oleh Wiwik.

“Masya Allah, padahal anak itu ikut lomba puisi kalah. Orangtuanya ikut waktu pengumuman pemenang. Saya dapat sepeda untuk anak saya itu hasil dari panen lombok kamudian beli Rp250.000 di Jember. Saya bawa kwitansinya dan saya tunjukkan. Akhirnya anak itu mau sekolah lagi,” katanya.

Selama tiga tahun Wiwik menjalani lakon seperti itu, sebelum kemudian ia mendirikan PAUD Nusa Indah II di dekat rumahnya karena melihat juga banyak anak-anak yang tidak tertampung di TK dengan alasan biaya terlalu mahal.

“Sejak 2007 saya tidak mengajar di PAUD Nusa Indah I, saya serahkan ke adik saya dan Ibu Mega, guru lainnya. Meskipun demikian saya yang tetap mengelola PAUD itu,” katanya.

Karena Imam Ryan Hidayat laki-laki, maka prosesi memandikan setiap pagi dan mencukur rambut pada hari Jumat tidak lagi dialami anak-anak PAUD itu. Selain tidak bisa mencukur, masih ada norma tidak pantas jika laki-laki yang tidak ada hubungan keluarga memandikan anak perempuan.

“Nanti awal Juli 2008 saya akan mengajar lagi di PAUD Nusa Indah I karena Bu Mega sudah mau melahirkan. Pekerjaan memandikan dan mencukur akan saya kerjakan lagi di sana,” kata Wiwik.

Satu hal yang selama ini mengganjal pikiran Wiwik adalah, musalah tempat PAUD itu digelar yang tidak memiliki alas, kecuali tegel. Ia selalu prihatin karena anak-anak belajar sambil duduk di atas lantai yang dingin.

“Tapi alhamdulillah pada pertengahan Juni 2008 ada orang yang membantu membelikan dua tikar. Orang itu sebetulnya mau membelikan karpet, tapi karena biasanya karpet `menyimpan` debu akhirnya dibelikan tikar. Saya senang dan anak-anak pasti senang juga,” katanya.

Apakah lembaga yang didirikan itu tidak pernah mendapatkan bantuan? Wiwik mengaku pernah dua kali dikunjungi Ketua Forum PAUD Bondowoso, Ny Ny Hj Sri Utami, isteri bupati Mashoed yang memberikan bantuan makanan, sabun, handuk dan keperluan mandi.

“Saya sekarang senang karena upaya saya sudah menunjukkan hasil. Anak-anak lulusan PAUD Nusa Inda ini rata-rata berprestasi saat di SD. Salah satunya di SD Sumber Sari II yang kepala sekolahnya banyak mengucapkan terima kasih ke saya,” kata Wiwik.

Pengelola PAUD Anak Sholeh, Tenggarang, Bondowoso, Evy Yulistiowati Pramono, SPd mengaku prihatin karena di PAUD Nusa Indah I itu tidak ada sama sekali alat permainan yang seharusnya pendukung “roh” pendukung untuk merangsang perkembangan anak.

Ia mengaku salut dengan perjuangan Wiwik yang betul-betul tanpa pamrih. Ia menilai, meskipun semua guru PAUD adalah pengabdi yang tulus, namun perjuangan Wiwik memiliki nilai lebih dan luar biasa.

“Seharusnya para pemimpin di negeri ini belajar dari keikhlasan orang-orang seperti Bu Wiwik. Namun demikian, pemerintah tidak boleh membiarkan Wiwik dan mungkin Wiwik-Wiwik lainnya berjuang sendirian seperti itu. Ia harus diperhatikan dan dibantu,” kata Ketua Himpaudi (Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia) Kecamatan Tenggarang itu.

Sementara Sekretaris Forum PAUD Kabupaten Bondowoso, Ida Syafriani, SSos, MSi menyatakan, perjuangan para guru PAUD di wilayahnya memang luar biasa. Karena itu pihaknya ikut berjuang agar pemerintah ikut memikirkan kesejahteraan mereka.

“Pemerintah daerah untuk saat ini sudah banyak perhatian, meskipun nilai insentifnya hanya Rp50.000 setiap bulan. Untuk jangka panjang, kami berharap mudah-mudahan nasib guru PAUD ini bisa seperti sekretaris desa yang diangkat sebagai pegawai negeri,” katanya.(*)

 

aku dan aku

Blogged under puisi by sinthionk on Thursday 26 June 2008 at 11:05 am

—terinspirasi tulisan temen—

aku dan aku

musuh terbesarku adalah aku
sahabat sejatiku adalah aku

tamparan tersakitku datang dari aku
pelukan terhangatku datang dari aku

aku dan aku
melewati berjuta kejatuhan dan kesakitan
aku dan aku melewati berjuta senyuman dan kehangatan

aku dan aku

Next Page »
Proudly powered by Wordpress - Theme Triplets Identification band, the boyish style by neuro