Prolog Mendidik Serial Anak Menjadi Pahlawan

Blogged under keluarga by sinthionk on Sunday 28 June 2009 at 5:53 am

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sahabat SMArter semua…,

Mengapa saya memberi judul “Serial Mendidik Anak Menjadi Pahlawan”? Kalau Anda pernah membaca tulisan saya berjudul “Visi Kepahlawan”, maka Anda mungkin faham latar belakang judul ini. Namun bagi Anda yang belum baca tulisan itu, saya akan ceritakan sekilas.

Begini, selama ini saya merasa sedih dan prihatin melihat kondisi Indonesia.Terlalu banyak paradok di negeri mayoritas Islam ini. Satu sisi sumber daya alam kita kaya raya, namun di sisi lain sumber daya manusianya banyak yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, dan terjerat dalam lingkaran setan patologi sosial. Satu sisi masyarakat 100% beragama (terutama Islam), namun di sisi lain dalam kehidupan tak ubahnya ateis. Ah, terlalu banyak paradok, bahkan saya yakin, Anda pun sudah tahu, apa yang terjadi dengan Indonesia yang tak ubahnya Garuda patah sayap.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, tentu melihat semua itu, tidak cukup hanya dengan mengeluh, menyalahkan, atau apapun respon reaktif lainnya, namun harus proaktif dan ada hal yang bisa kita lakukan. Ternyata, kesedihan dan kepiluan saya itu, terwakili dengan tulisan Anis Matta, berjudul “Mencari Pahlawan Indonesia”. Iya, kita memang butuh pahlawan, untuk menyelesaikan masalah besar, komplek, dan akumulatif yang di derita bumi pertiwi.

Siapakah pahlawan itu? “Pahlawan”, kata Anis Matta dalam bukunya itu, “bukanlah orang suci yang turun dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis”.

Itulah makna pahlawan. Bahwa pahlawan hanyalah “manusia biasa”, seperti saya, Anda, dan sahabat Eska semua, alias kita. Ya, kita adalah manusia biasa. Hanya saja, mungkin yang membedakan satu sama lainnya diantara kita adalah pekerjaan itu, ada yang melakukan pekerjaan besar, dan ada yang melakukan pekerjaan kecil.

Bagi saya, salah satu pekerjaan besar itu adalah membina keluarga dan mendidik anak. Nikah, bukan sekedar mengumpulkan dua orang, dua keluarga, dua keturunan, atau bisa jadi dua suku, tapi nikah adalah awal mula sekaligus komitmen untuk membangun peradaban manusia. Sebab, manakala setiap orang membangun keluarga dan mendidik anak-anaknya menjadi manusia baik, maka pada hakikatnya ia sedang membangun masyarakat, bangsa, dan peradaban.

Hanya saja, selama ini, terkadang yang terjadi sebaliknya, justru pernikahan itu mengisolir seseorang untuk melakukan perubahan sosial, mengembangkan sikap egois dengan mengatasnamakan ingin mengutamakan isteri dan anak, dan akhirnya, seharusnya keluarga tadi berfungsi membangun peradaban manusia, malahan menghancurkan peradaban manusia, sebab tidak tahan dengan kerasnya dunia. Sehingga tidak sedikit yang tadinya orang baik, menjadi tidak baik; tadinya tidak berani memakan barang haram, menjadi orang menghalalkan segala cara untuk menafkahi isteri dan membelikan kebutuhan anak-anaknya. Ia termakan dengan pernyataan yang menyesatkan, “Cari yang haram aja susah, apalagi yang halal!” Mengapa hal itu terjadi? Sebab, orang itu tidak memiliki visi, baik itu visi peradaban, visi keluarga, visi pribadi, visi kepahlawan, mau pun visi lainnya..

Maka dalam beberapa tulisan nanti, kita akan mendiskusikan visi-visi itu, terutama visi kepahlawanan dalam mendidik anak. Visi inilah yang akan menggerakan kita untuk meneliti realitas kita saat ini sekaligus memikirkan proses yang menjembatani antara visi dan realitas.

Jadi, tema “Mendidik Anak Menjadi Pahlawan”, bukan menuntun kita untuk “merasa” menjadi pahlawan, alias sok pahlawan. Bukan itu! Jauh beda antara merasa jadi pahlawan atau sok pahlawan, dengan orang yang memiliki visi kepahlawanan. Sekali kali visi kepahlawanan itu tetap menyadarkan kita bahwa kita hanya “orang biasa”.

Saya teringat Kata Pengantar sebuah buku, judulnya “Kaifa Takuna Aban Najihan” (Bagaimana Menjadi Ayah Sukses). Dalam buku itu, Abdullah Muhammad Abdul Mu’thy, menceritakan bahwa pada suatu hari biasa, lahirlah seorang bayi dengan cara biasa. Oleh bapaknya, bayi itu diberi nama “Putra Biasa”. Sejak kecil hingga dewasa, Putra Biasa , tumbuh dan berkembang sebagaimana kebiasaan banyak orang. Sekolah di SD Biasa, SMP Biasa, SMP Biasa, dan Perguruan Tinggi Biasa. Nilainya pun biasa-biasa saja.

Seperti biasa, setiap tamat kuliah, ia pun bekerja. Lalu ia menjadi pekerja biasa. Maka hari-harinya pun biasa, sampai bertemu dengan seorang perempuan bernama Putri Biasa. Akhirnya, seperti biasa, kalau coeok dan cewek jatuh nikah, ya langsung menikah. Menikahnya pun biasa-biasa saja. Lagi-lagi, seperti biasa, setelah beberapa bulan, Putri Biasa hamil. Sembilan bulan kemudian, lahirlah anak pertama mereka dengan cara biasa juga. Anak mereka tumbuh biasa. Lahir anak kedua, ketiga, keempat, kelima, dan keenam dengan cara biasa. Dan semuanya mereka didik cara biasa. Singkat cerita, Putra Biasa meninggal dunia. Maka di pusara kubur itu tertulis: “Di sini bersemanyam orang biasa”.

Nah, apakah kita ingin menjadi orang seperti Putra Biasa itu? Tidak ada hal yang luar biasa dikenang oleh anak isteri, apalagi masyakat. Kematian kita juga direspon secara biasa, tanpa ada rasa kehilangan,apalagi kesedihan. Ah, itunya, semuanya biasa-biasa saja.

Atau… justru kita bercita-cita menjadi orang luar biasa?! Orang yang dipuji oleh Allah, rasul, dan orang yang beriman? Orang yang dikagumi oleh anak-anak kita. Orang yang dikenang sebagai pahlawan, baik oleh isteri, adik-kakak, ibu-ayah, teman, masyarakat, bangsa, dan seterusnya.

Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Terserah Anda, apakah Anda akan ikut bersama saya mendiskusikan secara serius, mendalam, dan berkesinambungan, alias menganggap tema ini luar biasa, atau sekedar menjadi orang biasa yang rajin mendelet setiap e-mail yang masuk di inboxnya, alias menganggap ide ini ide biasa saja. Sekali terserah Anda!

Yang jelas, agar diskusi kita mengalir, jujur, hidup, fokus, terarah, dan saling melengkapi, maka ada beberapa sub tema yang akan kita bahas nanti, setidak untuk menjawab lima pertanyaan ini:

1. Bagaimana cara kita mendidik anak agar menjadi sholeh?
2. Bagaimana cara kita mendidik anak agar menjadi cerdas?
3. Bagaimana cara kita mendidik anak agar menjadi mandiri?
4. Bagaimana cara kita mendidik anak agar menjadi kreatif?
5. Bagaimana cara kita mendidik anak agar menjadi pahlawan?

Tentu saja, dari setiap pertanyaan dan jawabannya, akan melahirkan banyak pertanyaan lainnya. Untuk menjawabnya, tidak mungkin bisa dijawab oleh seorang Udo Yamin Majdi saja, tapi oleh kita yang sudah punya komitmen untuk terus belajar di milis WSC ini. Atau, siapa saja yang memiliki komitmen untuk membangun peradaban manusia.

Terlalu Banyak Pekerjaan Atau Kecanduan Hal Yang Tak Perlu?

Blogged under kehidupan, hikmah hari ini by sinthionk on Monday 13 April 2009 at 8:49 am

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Salah satu keluhan yang paling sering kita lontarkan adalah tentang keterbatasan waktu. Kita merasa seolah-olah pekerjaan yang harus diselesaikan itu terlalu banyak. Sehingga hal-hal yang seharusnya selesai, malah terbengkalai. Orang-orang positif memandang keterbatasan waktu sebagai sinyal baginya agar benar-benar memanfaatkan waktu yang tersedia untuk hal-hal yang bermanfaat. Mereka memastikan bahwa waktunya digunakan dengan efektif, untuk hal-hal yang positif secara produktif. Sedangkan, orang-orang negatif memandang keterbatasan waktu sebagai penghalang, sekalian alasan untuk tidak menyelesaikan tanggungjawabnya. Pertanyaannya sekarang adalah; apakah memang pekerjaan kita yang terlalu banyak, ataukah kita yang tidak benar-benar menggunakan waktu yang kita miliki untuk hal-hal yang berguna?

Jam sembilan pagi, seorang eksekutif sedang mengadakan pertemuan  diruang meeting. Sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara dua orang memasuki ruang meeting lain yang letaknya bersebelahan. Sebenarnya, system penyekat yang memisahkan kedua ruang meeting itu sudah cukup bagus, sehingga kalau orang-orang dikedua ruang itu berdiskusi secara normal, suaranya tidak akan tembus keruang sebelahnya. Namun, sering orang datang ke ruang meeting tidak untuk meeting, melainkan untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting. Dan itulah yang terjadi dengan orang-orang yang berada diruang meeting sebelah itu.

Sekarang sudah jam sepuluh. Tapi, pembicaraan dari ruang sebelah belum juga menandakan pembahasan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Alih-alih, mereka berdua itu asyik-asyik saja mengobrol ngalor ngidul sambil sesekali cekikikan dan cekakakan. Jam makan siang hampir tiba. Kandungan ceritanya masih seperti acara gossip program infotainment. Hebat sekali. Disaat orang-orang normal bekerja
secara produktif, mereka mengambil langkah sebaliknya. Jika anda mengira bahwa kisah ini sekedar rekayasa belaka, anda keliru. Dan dalam kejadian itu, sang eksekutif adalah atasan langsung dari salah satu orang yang berada diruang sebelah itu. Permasalahannya bukanlah apakah kita bisa bersembunyi dari atasan atau tidak. Bukan pula apakah waktu itu disia-siakan dengan mengobrol yang tidak jelas atau
melakukan hal lain yang kurang bermanfaat. Melainkan apakah kita benar-benar bertanggungjawab dengan waktu kita?

Ini sangat ironis. Karena, kita seringkali mengatakan kepada atasan bahwa kita tidak mempunyai cukup waktu untuk mengerjakan begitu banyaknya tugas ini dan itu yang dibebankan perusahaan kepada kita. Seperti yang juga dikeluhkan oleh si perumpi yang ketahuan atasannya tadi. Dia mengeluhkan terlalu banyaknya pekerjaan; sementara disaat seharusnya dia bekerja, dia malah menyia-nyiakan waktunya untuk sesuatu yang sama sekali tak berguna buat perusahaan yang membayarnya. Tidak juga bisa menjadikan dirinya tambah pintar, atau lebih terampil.

Ada juga orang yang berkata;”Semua pekerjaanku kan sudah selesai. Soal sisa waktu yang ada, itu urusan gue!” Jika kita mendengar pernyataan semacam ini, perlu diuji kebenarannya. Betulkah pekerjaan orang ini sudah selesai? Atau, barangkali memang perusahaan telah salah mempekerjakan orang. Dijaman ini perusahaan membutuhkan orang  yang tidak hanya terampil. Tetapi juga penuh inisiatif. Orang-orang yang sekedar terampil mungkin bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan juklak. Sedangkan orang-orang yang melengkapi keterampilannya dengan inisiatif; bukan sekedar akan menyelesaikan pekerjaan, melainkan datang kepada atasannya dengan gagasan-demi gagasan. Sebab, orang-orang yang penuh inisiatif tidak perlu menunggu sang atasan untuk menyuruhnya melakukan tugas ini dan itu. Dia sendirilah yang berinisiatif untuk itu. Lagi pula, mana ada atasan yang bisa selamanya mengawasi dan menyuapi setiap bawahan?

Para bijak bestari sudah sejak lama menemukan sebuah artefak yang berisi tulisan kuno. Tulisan itu berbunyi `Fa-idzaa faroghta fanshob’. Jika diterjemahkan secara bebas kalimat itu berarti; `Jikalau engkau telah menyelesaikan satu hal, maka
berpindahlah dengan sungguh-sungguh kepada hal berikutnya.’ Dengan kata lain, artefak itu mengingatkan kita tentang betapa banyaknya hal yang menunggu untuk kita tangani. Sehingga, sesungguhnya kita tidak memiliki cukup alasan untuk berhenti berkarya. Oleh karena itu, orang-orang yang mengikuti nasihat ini bersedia berpindah dari satu tugas kepada tugas lain. Dari satu aktivitas kepada aktivitas lain. Dari satu pencapaian, kepada pencapaian lain.

Beberapa tahun yang lalu, ada iklan mobil ditelevisi. Diakhir iklan itu muncul sebuah tag line berbunyi; `For those who know, there is no finish line’. Bisakah anda membayangkan seandainya seorang karyawan mempunyai sikap dan pemahaman seperti itu? Dia tidak akan mengatakan; `Pekerjaan gue kan sudah selesai. Gue bebas menggunakan waktu yang gue miliki’. Karena, orang-orang yang berpengetahuan tidak akan pernah menyia-nyiakan jam kerjanya untuk hal-hal yang sama sekali tidak memberikan kontribusi kepada perusahaan. Atau tidak membuat dirinya menjadi lebih baik dari hari ke hari. Mengapa? Karena, orang-orang yang mengerti, tahu bahwa; selama hayat masih dikandung badan, there is no finish line.

Kalau begitu, kapan kita boleh beristirahat? Waktunya istirahat, ya istirahat saja. Dan, disaat kita harus bekerja, ya bekerja. Jika kita bisa menempatkan kedua hal itu saja, kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan, dengan prinsip ini, tidaklah mungkin kita mengatakan bahwa pekerjaan kita sudah selesai. Sebab, jika demikian; apa alasan perusahaan memperpanjang masa kerja kita? Bukankah tidak ada gunanya bagi perusahaan? Ngapain mempekerjakan karyawan untuk suatu pekerjaan yang sudah selesai?

Banyak orang yang mengatakan;” Jika saya memberi lebih kepada perusahaan, apa imbalannya untuk saya?” Sounds familiar ya? Sejauh yang saya tahu, orang yang berkontribusi lebih mendapatkan imbalan lebih. Hanya saja, imbalan tidak selalu berupa uang. Sebab, ketika seorang atasan menepuk bahu bawahannya karena hasil kerjanya lebih baik dari teman-temannya; itu adalah suatu imbalan. Ketika para
pelanggan lebih puas dengan pelayanan kita dibandingkan yang dilakukan oleh teman-teman kita, maka itupun sebuah imbalan.

Jadi, kalau begitu; imbalan itu apa sih? Imbalan is hukum kekekalan energi in action. Anda masih ingat? Setiap wujud atau tindakan itu melibatkan energi. Sedangkan energi itu tidak akan pernah hilang. Oleh karena itu, setiap tindakan yang kita lakukan, selalu ada catatannya. Jadi, sangatlah penting untuk memastikan bahwa apa yang kita lakukan itu baik. Sebab, kebaikan akan berbuah kebaikan. Persis seperti yang dikatakan oleh guru ngaji saya, bahwa; “Suatu hari nanti, seluruh umat manusia akan dibangunkan dari kuburnya. Dan pada hari itu, akan diperlihatkan kepada mereka balasan atas pekerjaan mereka. Barangsiapa yang melakukan kebaikan, meski hanya sebesar biji wijen, niscaya dia akan mendapatkan imbalannya.”

Dalam kehidupan duniawi, tidak semua perbuatan baik mendapatkan imbalan yang pantas. Perusahaan banyak yang pelit kepada karyawan. Atasan banyak yang tidak adil dalam mengambil keputusan. Teman, banyak yang mengklaim pekerjaan orang lain sebagai miliknya sendiri. Sedangkan Tuhan, tidak pernah keliru dalam menilai. Dan memberi imbalan. Hitungannya dijamin benar. Kalkulasinya pasti berakurasi
tinggi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam artefak yang ditemukan oleh para bijak bestari tadi ada tulisan berikutnya yang berbunyi: `Wa-ilaa robbika farghob.’ Setelah dicari tahu apa artinya, ternyata itu adalah lanjutan dari nasihat tadi, yang berarti “Dan kepada Tuhanmulah hendaknya kamu menggantungkan harapan.”

Oh, ternyata tulisan diartefak itu mengajak kita untuk terus berkarya, hingga sebanyak mungkin potensi diri kita yang terdayagunakan. Agar banyak manfaat yang bisa kita tebarkan. Sedangkan imbalannya? Mungkin kita dapatkan secara kontan didunia. Atau, mungkin langsung dimasukkan kedalam rekening tabungan kita
untuk bekal diakhirat kelak. Sebab, seperti pesan yang tertulis diartefak itu; setelah menyelesaikan suatu kegiatan yang baik, sebaiknya kita mulai melakukan kegiatan baik lainnya. Menyelesaikannya. Lalu mulai lagi dengan kegiatan baik lainnya lagi.
Terus menerus begitu. Mumpung kita masih punya waktu. Karena, Tuhan sedang mengobral imbalan. Meski kebaikan yang kita lakukan itu kecil saja, imbalannya tetap ada. Dan bermakna. Mau?
Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman. blogspot. com/
http://www.dadangka darusman. com/

Catatan Kaki:
Sebelum mengeluhkan bahwa waktu yang kita miliki tidak cukup, lebih
baik terlebih dahulu memastikan bahwa kegiatan yang kita lakukan
cukup berharga untuk mengisi waktu yang sedikit itu.

“Ternyata Spirit itu Masih Ada!” Mengukir Idealisme dalam Pembuatan Film Sang Murabbi

Blogged under kehidupan, profil, islam by sinthionk on Tuesday 17 February 2009 at 5:44 am

Sosoknya sederhana. Mengenakan celana panjang dan kemeja putih, Zul Ardhia datang sedikit agak telat dari waktu yang dijanjikan. Pria berkacamata ini langsung tersenyum ramah begitu mengenali Majalah Dian Al-Mahri. Tak lupa ia mengucap salam sebagai perkenalan dengan menangkupkan tangan di depan dada. Dahinya berkerenyit memandang ke sekeliling restoran. Memang suasananya sedang cukup hingar bingar. “Pindah ke tempat yang lebih tenang yuk.” Ajaknya.

Sebab sore ini, Zul berjanji memperlihatkan film yang baru digarapnya, yaitu Sang Murobbi, Sebuah Spirit yang Hilang. Film yang ia sutradarai ini bercerita tentang kisah hidup Ustad Rahmat Abdullah, salah seorang pendiri PKS yang meninggal di tahun 2005 lalu. Sosoknya yang cerdas, menyejukkan, dan bersahaja menginspirasi Zul untuk mengangkatnya ke layar lebar.

Mengapa Ustad Rahmat? Karena Sang Murobbi ini ceritanya sudah meninggal kan ya. Kenapa? Kita nggak mau orang yang masih hidup, takutnya jadi mengkultuskan seseorang. Takutnya kita malah membuat orang jadi pahlawan atau apa. Tapi kalau udah meninggal, kita terbebas dari nilai-nilai itulah. Dan kita mencoba untuk se-objektif mungkin.

Ustad Rahmat memang terkenal Ustad yang sangat bersahaja. Kalau kamu lihat filmnya, ya begitulah Ustadz Rahmat. Yang kalau ktemu sama orang, bilang Assalamualaikum. Yang kalau nggak ada duit, padahal keluarganya butuh makan, tapi kalau orang lain butuh, dia mendahulukan orang lain. Itu semua kan sunnahnya Rasul. Itu semua beliau berusaha terapkan.

Kalau kamu pernah ketemu Ustad Rahmat, dia berdakwah, nggak pernah mau dia dikasih duit. Bahkan dari cerita yang saya denger, Beliau kalau khutbah jumat itu kan dikasih transport ya, beliau simpen. Beliau masukin di dalam kotak, itu nggak pernah dipake2 sama dia. Nanti kalau ada orang butuh baru diambil dari situ. Begitu itu dibuka, ketika beliau meninggal, 100 juta lho ada. Dakwah kan kita harus memberikan apa yang kita bisa berikan. Berkontribusi dari dakwah, bukan hidup dari dakwah. Konsep dakwah memang begitu.

Jadi kepedulian, kepekaan, perhatian, itu yang ada di diri beliau kita mau angkat. Kenapa? Karena kita udah kering sama tokoh2 teladan macam bgitu. Jadi teladan buat umat.

Proses pembuatan film ini sendiri sudah berlangsung selama hampir 2 tahun di bawah bendera Majelis Budaya Rakyat (MBR), sebuah organisasi independen yang bergerak di bidang kesenian dan kebudayaan. Kebetulan para aktivisnya adalah kader-kader PKS. Uniknya, inisiatif membuat film ini justru lahir lebih awal daripada MBR itu sendiri – beberapa bulan setelah Ustad Rahmat wafat. Dalam sebuah pertemuan, tiba-tiba seorang teman Zul melontarkan gagasan untuk memfilmkan hidup beliau.

Beberapa bulan kemudian, saya dan temen-temen dikumpulin untuk bikin Majelis Budaya Rakyat, isinya praktisi-praktisi kesenian dari berbagai disiplin ilmu. Ada dari film kaya saya. Ada M.Yulius, dia itu kan wartawan, jurnalis. Kemudian ada orang-orang IKJ, pemain teater. Dan ketika kita mau bikin program, saya mengusulkan kita bikin film tentang Sang Murobbi. Sang Murobbi itu kan artinya guru. Sesuai dengan tema mengangkat tokoh ulama itu kan. Nah saya usulkan, angkat Ustad Rahmat Abdullah. Berkembang kemudian, ada beberapa calon lain. Tapi yang menurut kami paling deket dan paling bisa diterima saat ini adalah Ustad Rahmat, ya Ustad rahmat yang kita dahulukan. Itu sih sebenernya prosesnya.

Ini proses yang berdarah-darah-lah, dalam tanda kutip. Kita nggak punya duit. Kita kan lembaga nirlaba, nggak bisa apa-apa. Ada cuma modal awal berapa puluh juta, habis untuk kegiatan kita. Dan untuk sang murobbi tuh nggak ada. Akhirnya niatnya cuma 1, bismillah aja dah.

Pakai dana pribadi bikin proposal, bikin ini, bikin itu. Ktemu ustad ini, ktemu ustad itu. Akhirnya ada satu nama, Ustadz Mahfud Abdurrahman namanya, Beliau ini muridnya almarhum Ustad Rahmat. Beliau -ah yang mendorong kita dan ngasih dana awal untuk membuat Sang Murobbi. Beliau kasih, saya bikin persiapan, skenario ga kelar-kelar. 5 kali bolak-balik skenario itu. Kemudian kita buka casting. Castingnya ga cocok-cocok karena kita nyari yang bisa ngaji. Jadi sebelum KCB (Ketika Cinta Bertasbih, red) melakukan ini, MBR udah duluan.

Pinter main tapi ga bisa ngaji, apa boleh buat kita reject. Ada jago ngaji ga bisa main ya kita singkirin dulu. Sampai akhirnya ketemu sosok Pak Irwan (Irwan Rinaldi, pemeran Ustadz Rahmat, red) itu. Dia kan muridnya almarhum dan sangat kenal ustad rahmat. Ngajinya juga bagus. Nanti di film kamu denger ada sekelumit orang ngaji, itu suara beliau. Enak banget.

Begitu sudah produksi, pasca produksinya dimana. Editingnya dimana? Alhamdulillah di rumah saya ada. Ngeditlah di rumah saya, nggak bayar. Sampe dengan sekarang. Akhirnya memang kita ga mikir margin terlalu besar, nggak lah. Kita mikir dakwah nomor satu. Kalaupun kita sekarang, katakanlah, menjual VCD ini kan ada cita-cita besar, membioskopkan. Itulah yang membuat orang seperti saya masih bersemangat.

Layar Kaca ke Layar Lebar

Perjalanan menuju layar lebar tidak mudah. Meski pemutaran perdana di Pekan Tarbiyah, 27 Juli 2008 lalu yang diadakan di GRJS Bulungan mendapat sambutan yang luar biasa meriah (500 orang lebih datang untuk menonton, termasuk dari daerah seperti Lampung, Yogyakarta, dan Surabaya), masih banyak langkah yang harus dilakukan demi memberi film ini kesempatan yang sama dengan Ayat-ayat Cinta dan Kun Fayakuun. Untuk mempercepat penggalangan dana. Pria hitam manis ini mencoba strategi pemasaran dengan menjual format VCD dan DVD terlebih dahulu. Masing-masing dijual dengan harga Rp.30.000 dan Rp.60.000. Sambil menyantap makan siangnya, ia membeberkan tantangan yang harus dihadapi.

Sebetulnya saya menempuh resiko yang amat besar. Kenapa? Karena kemarin saya baru bertemu dengan distributor VCD dan dunia ini sangat kejam. Waduh, ancur-ancuran deh. Nggak jamin tanggal 11 saya lepas, nggak ada yang menggandakan. Pasti ada 1,2,3, yang menggandakan.

Makanya saya hanya percaya – mungkin ini terlalu muluk-muluk ya – bahwa Allah lah yang akan menempatkan film Sang Murobbi ini di posisinya nanti. Apakah nanti ia akan berhenti sampai dengan VCD/DVD atau memang bisa masuk ke dalam bioskop. Karena memang pasarnya jahat. Aduh, jahat banget. Bayangin kamu ya, saya produksi dengan angka sekian, saya menjual cuma 30.000. Berapa yang mereka minta dari saya supaya mau menjualkan? 50%-nya. Artinya tuh VCD 30.000, mereka minta 50%-nya Rp.15.000. Saya dapet 15.000 doang, padahal yang memproduksinya 2 tahun kan saya! Setengahnya mereka udah mau ambil aja.

Ya hanya saya masih tahan-lah. Saya percaya masih ada orang-orang yang mau membeli dengan angka segitu dan memang ini infaq buat dakwah.

Saat ini, jumlah VCD dan DVD yang terpesan hampir mencapai 10.000 copy. Tidak bisa dinafikan, jaringan PKS memegang peranan penting. Kalau jumlah penjualan melejit sampai titik 40.000, maka film sudah bisa naik ke bioskop. Setelah menghitung-hitung pria kelahiran 18 Desember 1965 dengan lirih mengatakan biayanya mencapai 1 Miliar. Terbersit pertanyaan, mengapa ia tidak bekerja sama dengan Production House yang sudah mapan?

Kita nggak mau ketemu dengan produser yang cuma mikirin pasar doang. Mereka kan, yang penting ini laku aja. AAC yang novelnya sedemikian bagus, akhirnya jadi kisah poligami doang. Padahal itu kan film dakwah.

Kita ingin ada gerakan untuk menembus kapitalisme. Semua kan menghitung masalah untung-rugi. Kita nggak menafikan masalah untung-rugi, tetapi ideologi nomor satu. Tujuan kita apa? Yaitu bagaimana nilai-nilai Islam masuk ke penontonnya. Islam itu universal kok. Nilai Islam itu bukan terorisme, bukan fundamentalisme. Islam Rahmatan Lil Alamin! itu yang kita mau munculkan.

Nah sekarang nggak mungkin nilai-nilai itu kita usung, lalu kita ketemu dengan mereka (Production House, red). Segitu kita bikin nanti “Zul ini buang, zul ini buang, zul ini buang.” Wah! Abis tuh film! Kalau kita bikin sendiri, kan kita bisa menentukan, kemana arah nih film nanti. Tapi resikonya memang kita seperti sekarang ini. Tertatih-tatih… hahaha.

Kalau ada duit gampang. Saya tinggal ke Bangkok, bikin format layar lebar, Copy A itu kan, master, lalu bisa menggandakan di Indonesia, copy B. Kalo copy A nggak bisa. Nah udah saya daftar aja ke Cinema 21. Di 21 paling saya nunggu 2 bulan. Setelah 2 bulan naik. Karena 21 itu sistemnya adalah bagi hasil. Jadi keuntungan dibagi 3, pemilik bioskop, pemilik film, dan pajak. That’s it. Cuma itu aja. Tapi proses menuju 21-nya itu yang butuh dana besar.

Dakwah butuh Independensi Finansial

Berdakwah memang butuh independensi finansial, begitulah kesimpulan yang diambil pria yang berkecimpung di bidang film sejak 1989 ini. Itulah mengapa ia pribadi memilih bergelut di bidang periklanan sebagai mata pencaharian utama – sambil tetap mengerjakan proyek-proyek idealisnya. Ia mengkritik kebiasaan sebagian dari umat Islam meminta-minta sumbangan untuk berdakwah. Menurutnya, hal itulah yang menjadikan Islam dipandang sebelah mata.

Memang. Itu betul. Artinya begini, dakwah tuh hidup, kita yang menghidupi. Bukan dakwah, menghidupi diri kita. Makanya ada pengorbanan. Seperti halnya orang jatuh cinta, kan ada pengorbanan. Berdakwah juga seperti itu. Biarkan kemudian itu bergulir, lalu biarkan dakwah itu punya kekuatan finansial untuk menghidupinya.

Jadi jangan kita meminta-minta, seperti yang sering kita lihat. Nodong ini. Nodong itu. MBR ini berbuat kok, berkarya. Menjual kan memang hal yang sifatnya muamalah. Nah kalau diterima oleh pasar, ya itulah muamalahnya. Kemudian hasilnya itu dibuat untuk perluasan dakwah, begitu lho. Kita nggak meminta-minta, nggak!

Termasuk ketika yang mendanai itu, kita nggak minta sumbangan. Kita, katakan, diberikan pinjaman. Pinjaman ini wajib dikembalikan. Ya walaupun mereka bilang, ini investasi ya, ana investor ya, jelas mereka nggak berharap keuntungan. Tapi tetap ini harus dikembalikan.

Islam itu wajahnya nggak seperti itu. Dan dimana-mana dakwah itu mulainya dari nol. Rasulullah itu ketika hendak berdakwah nggak ada modalnya. Modalnya Bismillah aja, berdasarkan ketaqwaan sama Allah karena InsyaAllah Allah akan mempermudah. Kita coba menerapkan itu.

Sama temen-temen pun saya bilang, “Mungkin ini fasilitasnya nggak layak, mungkin fasilitasnya biasa aja, tapi kami berusaha memenuhi hak kalian sebagai kru. Tapi satu hal yang musti kita inget, kalau orang bisa menikmati, mengambil ibroh dari film itu, amal jariyahnya sampai kita mati juga masih ada tuh.” Alhamdulillah, temen-temen sepakat dengan itu.

Sebagai seorang pelaku seni yang mengamalkan kemampuan di koridor Islam, pria yang tinggal di Bintaro, Jakarta Selatan, sangat menjaga agar filmnya ini tidak ternodai nilai-nilai yang bertentangan. Zul yang pernah menjadi murid Teguh Karya dan Karsono Hadi ini tidak lagi memandang seni sebagai pemuas egoisme dan hawa nafsu, tapi sebagai dakwah. Itulah mengapa ia sangat prihatin dengan keadaan perfilman Indonesia.

Sangat menyedihkan. Kita dikendalikan oleh kapitalisme yang hanya memikirkan pasar doang. Yang bisa membentuk opini pasar dan dia mau jejalin kita dengan apapun, kita terima! Semuanya sejenis, mulai dari pocong, pornografi, Masya Allah.

Oke, kita bisa bilang, faktanya memang seperti itu. Justru kalau ada fakta seperti itu, kita perkecil, minimalisir. Jangan fakta itu, atas nama kesenian, kita tampilkan apa adanya. Jangan! Bikinlah sesuatu yang membuat kita tidak seperti itu. Kayak gimana caranya? Ya kasih lah adab-adab yang baik. Yang kita perangi sebenarnya Ghawzul Fikri. Ada pikiran-pikiran liar, pikiran-pikiran maksiat yang musti kita lawan. Kita nggak sadar lho menerima nilai-nilai itu.

Kamu bayangin sekarang, atas nama kebebasan, atas nama kasih sayang, tiba-tiba membanjirlah produk film yang seperti ML, virgin, dan lain sebagainya. Penontonnya kebanyakan teenager. Itu kan mereka mendapat contoh, oh kalo gitu halal dong gw, maaf, harus kehilangan ‘itu’ lah sebelum menikah. Itu trend kok, biasa gitu lah. Akhirnya dampak yang terjadi, kamu muter aja nih keliling Mall, lihat tuh anak2 kecil, di pojok, ngerokok, berangkulan. Itu dipertontonkan. Kayak apa anak kita ke depan kalau itu dibiarkan?

Nah kalau kita berusaha menerobos dengan UU, dibilangnya kita ekstrimis. Okelah, kita MBR nggak usah bermain di ranah itu. Berkarya aja deh. Ini ada karya kaya gitu, ada karya kaya gini, silahkan dinikmati. Dan ayo, kita berjuang untuk itu! Kalau perlu, kita berperang. Kalau kita kalah, ya itu kehendak Allah. Tapi paling nggak kita udah berusaha, udah memulai. Dan nggak ada batasnya perjuangan ini.

Mungkin sekarang nggak ada artinya ya perjuangan ini, tapi mungkin nanti diteruskan sama anak kamu yang menonton film ini. Anak-anak lain yang juga menonton. Akan diteruskan oleh mereka. Tapi harus ada yang memulai, kalau nggak. Mungkin hancur aja kita.

Mencari Spirit yang (Belum) Hilang

Bagaimanapun, Zul masih memendam harapan pada masyarakat Indonesia…

Kalau masyarakat kita diberi pilihan, InsyaAllah mereka pinter. Mereka bisa memilih ko. Tapi karena nggak ada pilihan, jadi itu lagi itu lagi. Seakan itu emang paling benar. Sekarang ada alternatif kan. Nah mereka bisa menilai. Makanya saya nggak khawatir Sang Murobbi itu ga bisa diterima masyarakat luas.

Kita modalnya bismillah, itu satu. Kedua, kita rendah hati mengerjakannya, nggak sombong. Ketiga, kita nggak tendensi apa-apa kok. Kita pun ngomongin agamanya, bukan agama yang menggurui. Ya kan? Kita nggak perlu nunjukkin, “eh, gw tawakkal lho” dengan perbuatan dengan sikap, biarkan orang yang menilai. Wallahu ‘alam. Tujuannya itu gitu.

Sebagai seorang kreator muslim, pria lulusan UIN Syarif Hidayatullah jurusan Tafsir Hadist ini masih menyimpan kobaran keinginan yang menyala, untuk menjadikan dunia perfilman sebagai sarana dakwah yang ampuh. Gamblang, ia setuju ide bahwa film adalah sarana propaganda yang paling efektif untuk menggugah rasa dan mengharubirukan penonton.
Sosok Zul Ardhia memang sederhana, namun ia berhasil membuat emosi para jemaah menjadi begitu kompleks ketika menyaksikan karyanya. Mereka menangis ketika adegan film sedang sedih; ikut tertawa ketika muncul akting jenaka; atau ramai-ramai berseru Allahu Akbar! saat adegan perjuangan. Dengan wajah berseri-seri Zul berkata “Ternyata spirit ini masih ada!”

*Salah satu artikel, yang membuat saya bahagia ketika menuliskannya. Beliau ini punya cara yang menarik untuk menularkan semangat dan idealismenya. Contagious. mudah-mudahan tulisan ini bisa ikut membaginya pada pembaca.

http://jurnalcahaya.multiply.com/journal/item/125/Ternyata_Spirit_itu_Masih_Ada_Mengukir_Idealisme_dalam_Pembuatan_Film_Sang_Murabbi

Ketika Fatimah Menanggalkan Pakaian Kesombongan

Blogged under kehidupan, profil, islam, Sejarah by sinthionk on Tuesday 17 February 2009 at 3:51 am

Semasa hidupnya, Ali bin Abi Thalib dan istrinya, Fatimah Az-Zahra dapat saja hidup dengan mudah dan harta yang berlimpah. Karena mereka adalah putri dan menantu Nabi Muhammad SAW. Namun hal itu tidak pernah mereka lakukan.

Ada sebuah kisah mengenai suatu hari dimana Rasulullah datang mengunjungi Fatimah, dan mencari cucu-cucunya. Fatimah menjawab, “Pagi ini tidak ada sesuatu di rumah yang dapat dicicipi, sehingga Ali mengatakan,’Saya akan pergi dengan keduanya ke rumah seorang Yahudi.”

Rasulullah kemudian menyusulnya dan melihat kedua cucunya sedang memainkan sisa kurma. Rasul bertanya, “Wahai Ali, mengapa engkau tidak menyuruh kedua anakku ini pulang sebelum mereka kepanasan?” Ali menjawab, “Pagi ini tak ada sesuatu pun yang kami miliki di rumah. Bagaimana jika engkau duduk dulu, wahai Rasulullah, sampai aku mengumpulkan buah untuk Fatimah?”

Begitulah yang dilakukan Ali bin Abi Thalib, pejuang Islam yang perkasa. Ia tak segan menimba air untuk seorang Yahudi, dimana untuk setiap timba ia mendapat sebutir kurma. Setelah terkumpul cukup untuk ia dan keluarganya, ia pun kembali ke rumah.

Pernah satu hari, menurut cerita Imran bin Hushain, Fatimah muncul di depan Rasulullah dengan wajah kekuning-kuningan dan pucat akibat kelaparan. Rasulullah lalu berkata, “Mendekatlah Fatimah.”

Setelah itu beliau berdoa, “Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah engkau laparkan Fatimah binti Muhammad.“

Imran bersaksi, “Darah tampak kembali di wajahnya dan hilanglah kekuning-kuningannya.”

***

Kesederhanaan hidup Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra adalah sesuatu yang dijaga, sebagai bentuk sikap istiqamah agar tidak mendewakan dunia. Rasulullah pun ikut terjun langsung menjaga akhlak keluarga buah hatinya.

Sebuah kisah datang dari Musa bin Ja’far, ketika Fatimah bertemu dengan ayahnya, mengenakan kalung. Segera ayahnya berpaling darinya. Fatimah pun memutuskan kalung itu, lalu melemparnya.

Gembira, Rasulullah pun berkata, “Wahai Fatimah, engkau adalah dariku.”

Tidak lama kemudian lewatlah seorang pengemis. Rasulullah memberikan kalung Fatimah kepadanya. Kemudian beliau berkata, ”Allah sangat marah kepada orang yang menumpahkan darahku dan menyakitiku lewat keturunanku.”

Memang sangat menyakitkan bagi Rasulullah, melihat Fatimah mengenakan perhiasan dunia, sementara masih banyak kaum muslim yang papa. Asma binti Umais pernah bercerita bahwa ia sedang berada di rumah Fatimah ketika Rasulullah masuk dan melihat kalung emas bertengger di leher Az-Zahra. Kalung tersebut diberikan oleh Ali.

Rasulullah langsung berkata, ”Anakku, janganlah engkau membuat orang-orang berkata, ’Fatimah binti Muhammad memakai pakaian kesombongan.” Fatimah langsung mencopot dan menjualnya hari itu juga. Hasil penjualannya ia gunakan untuk memerdekakan seorang budak wanita mukmin.

Rasulullah sangat gembira ketika berita itu sampai kepadanya.

***

Suatu hari Rasulullah sedang bepergian. Saat itu Ali baru mendapat ghanimah (harta rampasan perang), lalu membawanya ke Fatimah. Dua gelang perak diambil Az-Zahra, juga menggantungkan tirai di atas pintunya.

Salah satu kebiasaan Rasulullah ketika bepergian adalah selalu datang ke rumah Fatimah sebelum berangkat dan segera sesudah pulang. Maka begitu ia mendapati kedua gelang perak di tangan Fatimah saat pulang dari perjalanan, ia pun langsung beranjak pergi.

Fatimah menangis. Ia panggil Hasan dan Husein. Diberikannya gelang perak pada yang satu, dan tirai pada saudaranya, lalu dikirimnya mereka kepada sang ayah. Az-Zahra berpesan, ”Pergilah kalian ke tempat ayahku, ucapkan salam kepadanya dan katakan kepadanya, ’Kami tidak akan melakukannya lagi, dan ini kami serahkan kepadamu.”

Saat Rasulullah menerima pesan tersebut, ia pun mencium kedua cucunya, memeluknya, lalu mendudukkan mereka masing-masing di atas pahanya.

Lalu gelang perak itu dipotong-potong dan membagi-bagikannya pada sekelompok Muhajirin yang tak punya tempat tinggal dan harta. Sedangkan tirai dibagikan kepada orang-orang diantara mereka yang tidak berpakaian.

Kemudian Rasulullah berdoa, ”Allah mengasihi Fatimah. Sungguh ia akan memberinya pakaian surga dengan sebab tirai ini, dan akan memberinya perhiasan surga dengan sebab kedua gelang ini.”

***

Begitulah Rasulullah beserta keturunannya hidup. Dengan kesederhanaan, kebersahajaan, dan bahkan kemiskinan serta kelaparan. Bagaimana mereka bisa kenyang, sedangkan perut orang-orang miskin tak punya makanan sedikit pun. Bagaimana mereka bisa memakai perhiasan, sedangkan kaum muslim masih ada yang tidak berpakaian. Bagaimana mereka bisa memakaikan anak-anak mereka, Hasan dan Husein, perhiasan perak, sementara mereka mendengar rintihan kaum fakir. Sungguh akhlak dan kepekaan sosial yang begitu mulia. Melebihi indahnya perhiasan dunia.

Sumber: Fatimah Az-Zahra, wanita teladan sepanjang masa
*Tulisan dimuat pada Rubrik Napak Tilas, Majalah Dian Al-Mahri edisi II

Kritisi unTuk CatataN Perpisahan

Blogged under hikmah hari ini by sinthionk on Tuesday 17 February 2009 at 3:34 am

boleh komen ya. sebenernya kalo kita mau berpikir kritis, tulisannya dewi ini musti dikritisi juga. soalnya ada unsur bahayanya juga. terutama buat keutuhan perkawinan dan juga ada unsur pembodohan didalamnya.
ini catatannya dewi dan komentar saya… (komentar saya dikasih tanda +++)
Catatan Tentang Perpisahan

Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.

+++++Dewi berusaha untuk memulai pemaparannya (apologi/pembelaannya) dengan baik. Disini dia memulai dengan dialektika, yaitu jika ada perjumpaan, pasti ada perpisahan. Jika ada saya pasti karena ada kamu. Jika ada muda, pasti karena ada yang tua. Logika Cartesian ini, yang diperkenalkan oleh Rene Descartes (seorang filsuf Yunani), mengawali ’pencerahan’ dari sang dewi ini. Kemudian, dia juga memaparkan suatu hal yang akan membawa perdebatan dalam pemaparannya dalam tahap selanjutnya. Perdebatan itu sendiri terjadi diantara teks-teks yang disampaikannya (among themselves), dan bukan pada kita pembaca. Kalimat-kalimat Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati, telah membuka celah bagi diskusi dan dari sejak awal dia sudah mematahkan argumen-argumen yang akan dia paparkan dalam episode apologi berikutnya. Mari kita tengok isi kalimat itu. Dewi tidak pernah tahu kapan dia akan mengalami perpisahan atau kematian. Artinya, tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan waktunya bagi dia untuk berpisah. Yang harus dilakukan adalah bertahan. Demikian juga bahwa dari logika sedemikian ini, kiranya sah pula pernyataan berikutnya, yaitu bahwa dengan demikian maka tidak ada seorang pun juga yang berhak untuk menentukan kapan waktunya bagi dia untuk berpisah. Jadi, yang dilakukan oleh manusia adalah berusaha mempertahankannya. Dan mestinya, manusia hanya sampai pada tahap itu, dan bukan pada tahap mengambil keputusan untuk berpisah, apapun alasannya.
Kedua, dewi ini tidak lengkap menerangkan bahwa dalam sebuah peristiwa, sebagaimana juga dialektika itu terjadi, yaitu ada perjumpaan, ada perpisahan, ada muda , ada tua. Ada lahir , ada mati. Ketika dialektika itu harus berjalan, satu hal yang harus kita pahami, bahwa dalam hal itu pasti ada variabel pendukungnya. Kematian, variablenya bisa penyakit, bisa juga karena pembunuhan. Penyakit itu juga variabelnya bisa beberapa, bisa karena kemiskinan, kurang makan, atau juga bisa saja karena terlalu kaya lantas bisa stroke. Lalu, peristiwa atau keadaan yang namanya kemiskinan, bisa disebabkan oleh kondisi alam yang tidak mendukung, atau karena kemalasan. Jika kita urut lebih jauh lagi, maka akan ada urutan peristiwa yang sangat panjang, dan variabel/premis pendukungnya bisa ribuan. Setiap peristiwa atau keadaan, ada faktor pendukungnya. Jadi, peristiwa perpisahan juga ada variabelnya. Apakah karena dipisahkan oleh Tuhan (kematian) atau perpisahan karena faktor manusianya. Inilah objek obervasi kita atau objek verifikasi kita atas argumen dewi selanjutnya.
Jadi, dari pernyataan dewi, ada dua konklusi penting yang harus kita jadikan pisau penguji dan patokan dalam mengkritisi pendapat beliau berikutnya, yaitu :

++++1. bahwa tidak ada seorangpun yang tahu kapan akan mengalami perpisahan. Dengan demikian, tidak sah pula kewenangan seeorang untuk menyatakan kapan waktunya untuk perpisahan. Kecuali kita memandang bahwa itu bukanlah sebuah perpisahan yang ’memang seharusnya’, tetapi lebih kepada keputusan manusia.
++++2. bahwa dalam setiap peristiwa atau keadaan, pastilah ada variabel pendukungnya. Tidak mungkin sebuah peristiwa terjadi begitu saja. Tinggal diverifikasi, apakah penyebabnya adalah alam, Tuhan, atau ternyata manusia itu sendiri.++++++++

Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti.

Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.

Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.

++++++Nampaknya Dewi kesulitan untuk melakukan pemilahan mana yang merupakan gejala, dan mana yang merupakan penyebab. Jika KDRT dan orang ketiga adalah gejala dan bukan penyebab, jadi penyebabnya apa? Menyerahkan kepada ’memang sudah waktunya’, tidak memiliki penjelasan yang masuk akal. Ini juga menyampaikan lagi pada kita ketidakonsistenan pemikiran dewi. Diatas dia menyampaikan bahwa penyebab batuk adalah virus. Jadi ’bukan sudah waktunya’. Jadi memang alasan ’sudah waktunya’ itu adalah mengada-ada. ++++++++++++

September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran.

+++++++++Disini, inkonsistensi dan irrasionalitas dewi dalam berujar semakin jelas . Pada alinea pertama ujarannya, dia mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan akan terajdi perpisahan. Yang kita bisa upayakan adalah mempertahankannya. Pada alinea terakhir ini, setelah sebelumnya kita ‘diarahkan’ dengan berbagai analogi-analogi dari cerita-cerita yang tidak memiliki nilai filosofis, kecuali mengajarkan kepada kita pragmatisme (dalam banyak karya sastra berupa cerita/novel, sangat sedikit sekali yang didalamnya berisi ajaran yang filsafati, kebanyakan adalah pragmatis dan ilusionis), dewi menjadi ‘mengetahui’ bahwa inilah saatnya dia untuk berpisah dengan Marcell. (frase ‘kesadaran’, ‘awareness’, merupakan suatu pengesahan atas kondisi bahwa seseorang mengetahui sesuatu) Pada titik ini, kita melihat hal yang tidak lagi logis. Dewi sudah mulai mematahkan argumennya sendiri. Dewi mensimplifikasikan sebuah kata ’kadaluwarsa’. Padahal, dalam banyak literatur, kata’kadaluwarsa’ ini membutuhkan legalisasi, atau acknowledgement, mengenai apa yang dimaksud dengan kadaluwarsa itu. Kita breakdown ke peristiwa yang dialami dewi.

1. Apa yang menyebabkan hubungan dewi-marcell menjadi kadaluwarsa?
2. Apa parameter kadaluwarsa tersebut?
3. Apakah benar bahwa perpisahan itu disebabkan suatu faktor eksternal yang tidak dapat dikuasai, atau ternyata faktor internal yang sebetulnya bisa di drive?

Ini yang harus dijelaskan oleh Dewi.
Mengapa dia harus menjelaskan ini ? karena dia menggunakan kata kadaluwarsa. Kadaluwarsa, adalah similar dengan expired. Kata ini sama dengan istilah legal dan sah, yang membutuhkan pengakuan pihak lain jika seseorang hendak menyatakan sesuatu itu sah atau legal. Demikian juga istilah kadaluwarsa. Apa yang diungkapkan oleh Dewi dengan menyederhanakan sebuah hubungan sebagai memiliki aspek kadaluwarsa, adalah berbahaya, sebab adopsi terhadap istilah ini akan menimbulkan sebuah postulat baru, yang akan menimbulkan generalisasi terhadap apa yang dialami oleh dewi , menjadi terhadap semua peristiwa percaraian. Penggunaan istilah ini, memerlukan yang namanya generali opinio necesitatis , atau pengakuan publik atas suatu postulat. Nah, untuk memberikan suatu postulat, maka diperlukan pengujian secara ilmiah beserta parameternya. Jika tidak, maka istilah ini tidak memiliki arti. Akan sama artinya dengan istilah posmodernisme ditangan seorang mahasiswa yang baru belajar filsafat. Kemudian, satu hal yang perlu diklarifikasi lagi oleh Dewi. Benarkah kehidupan ada kadaluwarsanya? Jika kita melihat dalam tataran aktivitas, ya. Tapi itu juga perlu rentangan waktu yang tidak prematur. Namun jika kita melihat dalam sisi yang lain, misalnya posesivitas, seringkali makin lama hidup ini memberikan kepada orang kepemilikan yang semakin banyak atas segala sesuatu. Baik itu tangible seperti harta benda, uang dan sebagainya ataupun juga intangible seperti kehormatan, nama besar dan sebagainya. Apalagi, jika kehidupan dilihat dari nilai yang lebih mulia dari itu, misalnya mama Teresa yang tdk punya apa-apa namun hidupnya mulia, tidak seperti Osama Bin Laden, orangnya kaya tapi hidupnya mirip binatang. Bahkan, jika kita merujuk kepada pendapatnya Tan Malaka, bahkan kematian akan membawa kebesaran yang lebih dahsyat (Ini disampaikan oleh Tan Malaka, dalam bukunya MADILOG (Materialisme, Dialektika Logika), bahwa sebelum dia dihukum oleh pemerintah Hongkong, dia berkata “suaraku akan terdengar lebih keras dari dalam kubur”). . Jadi statement atau premis yang disampaikan dewi tentang kadaluwarsa ini perlu untuk dikaji dan diklarifikasi lebih lanjut, sebab tidak memiliki keabsahan secara rasional.+++++++++

Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan seterusnya. Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

+++++++Kita perlu kejujuran dewi untuk menjelaskan mengapa dia bertemu dengan Marcell. Kita bukanlah makhluk mesin yang tidak memiliki perasaan, ataupun binatang yang tidak memiliki respon terhadap impuls-impuls ataupun rangsangan apapun. Setiap tindakan yang dilakukan manusia, maka normalnya tindakan tersebut memiliki dasar (reasoning ) yang kuat. Saya yakin, ada hal yang diketahui dewi yang membuat dia mau untuk menjalin hubungan dengan Marcell. Jika dia mengatakan bahwa bahwa dia tidak mengetahui mengapa dia bertemu marcell, saya khawatir bahkan dia mungkin tidak tahu siapa dia sekarang (losing identity). Maaf, mungkin kita bahkan perlu mencari tahu seperti apa pergaulan antara Dewi dengan Marcell, atau dengan pacar-pacar terdahulunya dewi, berapa lama rentang waktu antara pernikahan dewi dengan kelahiran anaknya. Hal ini penting untuk mengetahui motif pernikahan antara dewi dengan marcell.+++++++

Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan.

+++++++Mbak dewi, maaf adalah suatu kata yang merupakan katalisator bagi sebuah restorasi atas keadaan yang telah terjadi, dan membuat hal-hal yang sudah terjadi, dianggap tidak signifikan lagi, dan para pihak akan kembali ke tempat mereka semula dalam konstelasi yang sama, sejauh bahwa hal itu diserahkan kepada diri masing-masing. Kecuali bahwa akibat dari suatu peristiwa tersebut mengundang kekuatan eksternal untuk melakukan suatu penindakan, misalnya dalam hal tindak pidana, walau sudah dimaafkan, namun tetap saja seseorang yang mencuri harus dihukum. Namun, sejauh hal itu dikembalikan lagi kepada masing-masing, atau, kalau dalam bahasa hukum, hal tersebut adalah ranah perdata (dalam hal ini perceraian adalah ranah perdata), maka tentunya makna kata maaf semestinya adalah bermakna pula rekonsiliasi, dan bukan keputusan untuk berpisah. Karena, itu menjadi kontradiktif. Jadi, janganlah kita mereduksi makna dari suatu kata. Kecuali, jika kajian kita adalah postmodernisme, maka hal itu menjadi lain, dan diskusi kita juga tentunya akan mengarah kepada yang lain. Namun demikian, pada sisi ini memang sangat perseptif. Dan kita serahkan pada dewi saja.++++++++++++++++++++++

Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.

+++++++++Kalau begitu, kemungkinan ’cangkang’ perkawinan memang tidak cocok untuk dewi? Karena, jika dewi percaya kepada komposisi alam semesta yang berjalan menurut ’maksim’nya sendiri, maka sebetulnya tidak ada masalah jika dalam cangkang itu marcell atau bukan, karena kan ketika kita mengambil keputusan untuk masuk ke dalam cangkang itu, maka pastilah kita, terutama dewi sebagai orang yang selama ini dianggap oleh para penggemarnya sebagai orang pintar dan futuristik, sudah paham akan konsekuensinya. Tentunya sudah mempelajari apa itu perkawinan dan segala asesorisnya. Kecuali bahwa perkawinan ini memang hanya ’cangkang’ yang tidak memiliki makna apa-apa buat dewi, ya, berarti ternyata pemahaman anda akan hal kehidupan, ternyata sampai sebegini. Kemudian, mengapa cangkang itu tidak pas? Bahkan mengapa dewi harus melontarkan tuduhan kepada mereka yang memang bisa berjuang mempertahankan perkawinannya sebagai hal yang sia-sia? Ini adalah sebuah metode apologi yang salah, semacam menutupi kesalahan kita dengan menunjuk kepada kesalahan orang lain, supaya orang lain melihat ke arah sana dan tidak melihat ke arah sini. Ada sebuah bahaya dalam statemen ini, karena perkawinan disebut sebagai cangkang yang bisa dicampakkan begitu saja, dan bukan sebuah bangunan rumah yang harus dibangun bersama sebagai tempat berteduh. Mungkin saja bangunannya belum jadi dan kita malah bertengkar tentang kebiasaan kita di rumah. Mungkin bukan rumahnya yang harus dibuang, tetapi kitanya yang harus dicerahkan dan direstorasi+++++

Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.

Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.

++++++++++Kembali Dewi disini menyampaikan hal yang sesat lagi. Menganggap bahwa eksistensi seseorang seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri adalah hal yang tidak terlalu benar. Edmund Husserl, seorang tokoh filsafat eksistensialisme, menyatakan bahwa setiap eksistensi selalu diiringi dengan ko-eksistensi. Artinya, setiap keberadaan orang dan apa yang dicerapnya, tentu juga akibat pengaruh dari orang lain. Kira-kira merupakan kelanjutan dari ide Cartesian. Fondasi kita memang bukan anak, namun fondasi kita adalah eksistensi-koeksistensi. Bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan koeksistensi etis. Setiap koeksistensi, tidak layak untuk hanya ditanggapi dengan pembiaran. Apalagi jika kita belajar psikologi perkembangan anak, pastilah kita semua tahu apa itu akibatnya dari suatu perceraian. Dan ini ilmiah lho, dapat dipertanggung jawabkan, bukan pendapat sendiri yang validitasnya masih harus kita pertanyakan. Dewi juga mungkin sudah belajar tentang keseimbangan alam versinya new age. Ada suami, ada isteri. Seorang anak, pastilah memiliki ayah dan ibu. Kemudian ekosistem memiliki unsur-unsurnya yang lebih banyak lagi yang menjamin dunia menjadi seimbang. Demikian pula alam semesta. Lalu, bagaimana kalau seorang anak tanpa ayah dan ibu disampingnya sebagaimana ditetapkan versinya keseimbangan alam? Pastilah sudah tidak seimbang. Dan ingat, dewi berkontribusi menciptakan ketidakseimbangan dalam alam semesta, dan terutama, dalam hidup seorang anak bernama Keenan++++++

Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya” , seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.

++++++++Sesungguhnya, menurut saya, sains, agama secara esensial dan fundamental tidak berubah. Yang terlihat sebagai perubahan mungkin adalah derivasinya. Mana ada sains jaman ini yang tidak merupakan derivasi dari sains yang terdahulu? Jika kita menggunaan psotulat revolusi sainsnya Karl Raimund Popper ataupun Thomas Kuhn, maka kita tetap akan melihat suatu korelasi derivatif dari Ilmu Pengetahuan. Namun tetap saja ada nilai-nilai yang tidak berubah. Misalnya ukuran meter dan sekon. Ini tidak berubah. Yang berubah adalah derivasinya. Meter bisa menjadi pixel. Sekon bisa menjadi milisekon. Kemudian postulat Newton, juga tidak berubah. Yang berubah pastilah derivasinya. Bahkan jika kita meninjuanya sampai ke Hawking. Demikian juga untuk ukuran moral. Ada yang tidak berubah. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, nampaknya tidak akan berubah sebagai nilai yang positif. Menjadi martir juga tetap akan memiliki nilai yang positif. Egoisme, tetap akan memiliki nilai yang tidak positif, kecuali dalam konsep ubermenschnya Nietzsche, orang yang berakhir dengan kegilaan itu++++++++++++++++++++++++

Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya.

+++++++++++jika memang kebahagiaan tidak ditentukan oleh mekanisme eksternal, lalu mengapa dewi tidak menerima saja segala sesuatu dalam pernikahan ini? Kenapa harus bercerai? Kan bisa juga kebahagiaan karena kita memang merasa bahagia, tidak perduli sejauh apapun itu pahitnya terasa kehidupan ini. Jadi, sekali lagi kita diperhadapkan dengan kontradiksi antara pernyataan dewi dengan keputusan yang diambilnya. Namun, saya tetap mempercayai bahwa dalam dialektika, selalu ada kemungkinan pengaruh eksternal dalam hidup kita. Ingat, bahwa eksistensi selalu mengandung koeksistensi. Demikian juga respon kita, akan dipengaruhi oleh dua hal tersebut. Tidak perlu membahagiakan orang lain, cukup memenuhi tanggung jawab saja sebagai orang yang sudah mengambil keputusan untuk menikah dan punya anak. Belum tentu juga yang orang tuanya lengkap merasakan kebahagiaan. Namun, poinnya saya kir bukan disitu, tapi responsibility saja. Bayangkan sebuah dunia tanpa manusia yang bertanggung jawab, pastilah akan hancur. Dan tanggung jawab itu bisa dinilai dari ukuran yang kecil seperti bertanggung jawab terhadap keluarga dan sebagainya. Sebab, jika kebahagiaan diukur hanya dengan aspek internal, maka saya khawatir ini akan membawa kepada ekstrem yang lain. Kita berbuat sesukanya saja kepada orang lain, toh apakah dia merasa tersakiti atau tidak dengan perbuatan kita, adalah keputusan dia sendiri, bukan karena kita menyakiti orang lain. Dalam sisi ekstrem yang lain, bahkan membunuh orang menjadi halal, karena bisa saja bermakna pembebasan, seperti yang dilakukan oleh seorang ibu di Margahayu Bandung ketika membunuh ketiga orang anaknya dengan alasan menghindari konsekuensi penderitaan bagi anaknya di masa yang akan datang++++++++++++++

Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep “kecuali”.

+++++++++Justru, anda mengkerdilkan Tuhan. Dan ini tidak logis. Tuhan menjadi nir nilai. Bagaimana kita menerangkan tuhan yang tanpa nilai? Bahkan , sekali lagi ini menyangkali logika dialektika, bahwa ada yang baik, ada yang jahat. Ada Tuhan, dan ada setan. Kok jadi banyak yang tidak logisnya ya? Dan, menurut saya terlalu jauh jika diskusinya menyangkut Tuhan. Tidak ada peran Tuhan dalam urusan dewi ini. Semuanya adalah keputusan dewi sendiri. Berusaha melibatkan Tuhan dalam urusan ini, menunjukkan bahwa kita tidak memahami Tuhan. Apalagi berusaha menafsirkan kejadian-kejadian tertentu (air mata, patah hati, ketidakadilan, kejahatan) sebagai perbuatan Tuhan atau pembiaran dari Tuhan+++++++

Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan “kemarin sore”. Kita semua tahu keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing.

++++++++++Nah, disini baru kelihatan aslinya. Bahwa dewi memang ’mengambil keputusan’ untuk bercerai. Jadi , bukan karena ’memang harus begitu’, tetapi lebih kepada ’inilah pilihan kami’, untuk menyelamatkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Kata masing-masing, tentunya menyiratkan adanya ego. Sebab, kata ’keluarga’ dengan kata ’masing-masing’, memiliki makna yang agak diametral. Jika keluarga memiliki identitas bersama (plural/korporat), maka masing-masing bermakna pribadi(ego/singular/monolitik). Perkataan kembali urus diri masing-masing juga semakin menyiratkan bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan masing-masing, bukan karena ’kadaluwarsa’, atau karena ’kodrat’ dan sebagainya. Disini baru terlihat aslinya dewi. Itu seharusnya yang a tonjolkan, bukan berusaha untuk membuat dia ’innocent’ dan berusaha menampilkan sosok bijaksana. Dewi adalah bagian dari milyaran manusia biasa seperti saya dan kita semua. Jadi, tidak perlu memberikan penjelasan yang njlimet, karena akhirnya ketahuan juga aslinya+++++++

Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi berbagi kebenaran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau.

++++++++++Ah Dewi, kan kamu juga memanfaatkan kehausan publik akan drama, makanya kamu buat novel, cerita, dan bahkan lagu-lagu kamu semasa di RSD, juga penuh dengan dramatisasi. Jangan membuat seolah-olah kamu tidak setuju dengan dramatisasi, tapi kamu hidup dari dramatisasi itu sendiri.++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan (Fitriawan Ginting - RED). Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan.

Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya. So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”. Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini.

Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.

++++++++++Nah, ini juga menunjukkan fakta yang lain. Artinya, kemungkinan besar Dewi emang tidak tahu lagi siapa dirinya, kemana ia akan pergi atau kemana sebenarnya ia pergi selama ini dan bagaimana dia harus berbuat. Itulah yang menyebabkan dia bercerai. ‘Tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat’. Ini adalah sebuah ’escape clause’, klausul pelarian. Lari ke ’ketidaktahuan’. Ini juga aspek dramatisasi dari Dewi yang disajikan kepada kita+++++++++++++++++++++++++++++

Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.

+++++++++Lagi-lagi kata ’maaf’, ’sadar’, sudah dilibatkan dalam perdebatan diantara mereka sendiri. Diantara kata-kata itu sendiri. Bahwa hidup membawa mereka ke titik perpisahan. Namun, seperti ungkapan dewi diatas (sebelumnya), mengapa mereka tidak sadar dan menerima bahwa tugas kita manusia adalah untuk mempertahankan supaya tidak berpisah (sesuai pernyataan dia di awal alinea catatan perpisahan ini) dan bukankah dengan demikian kita tidak punya hak untuk memutuskan mengenai kapan harus berpisah?+++++++

Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.

++++++++++++Abstrak? Mungkin iya. Karena dewi berusaha untuk membuatnya terlihat seperti itu. Uraian yang memiliki kontradiksi dan pernyataan yang bertentang dengan logika didalamnya pastilah akan terlihat abstrak. Tapi, apakah penjelasan ini memiliki makna filosofis? Tidak. Sebenarnya Dengan melontarkan pertanyaan seperti itu, dewi sudah melakukan fait accompli, yaitu dia mempersepsikan bahwa orang yang membaca tulisan ini akan menganggap uraian dia filosofis, dan teoritis. Padahal sama sekali ini adalah ungkapan pragmatis yang dicoba untuk dikemas secara lebih abstrak. Penjelasan dewi ini sebenarnya dangkal, banal (B-A-N-A-L). Mengapa? Sebab dia berputar-putar untuk menutupi kondisi sebenarnya dan apa yang sebenarnya terjadi. Dewi ingin mempertahankan gembaran dirinya sebagaimana yang mungkin sudah tergambar dalam karya-karyanya. Dewi ingin terlihat wise, dan bahkan berusaha mempengaruhi orang agar mengikuti pemikirannya. Sayangnya, uraian dewi kurang begitu dikemas dengan cerdas, sehingga, dari uraiannya saja sudah terbongkar bahwa paparan ini penuh dengan kontradiksi yang tidak logis. Walau dibungkus dengan tata bahasa yang mirip ’maksim’, tetap saja bagi mereka yang melakukan verifikasi logis secara mendalam, akan menemukan kedangkalan seorang dewi dalam pemaparannya. Saya belum pernah membaca bukunya Dewi. Tapi, orang menganggap bahwa buku Dewi itu memberi pencerahan, agak saintifik dan sebagainya. Namun dari paparannya yang kita baca hari ini, ternyata Mungkin Moammar Emka lebih oke, ketika saya melihat debatnya di TV ONE beberapa waktu yang lalu+++++++++++++++++++++++++++

+++++++++++Mengapa saya tertarik untuk mengomentari tulisan dewi ini? Pertama, karena tuliasn ini mampir di e-mail saya. dikirim oleh seseorang. Kedua, karena ada bahaya mengintai. Dia mencoba untuk mengarahkan opini masyarakat tentang suatu lembaga yang namanya perkawinan, menjadi lembaga yang tidak memiliki nilai sama sekali, kecuali hanaylah sebuah hubungan perdata saja. Dan, bahwa tanggung jawab untuk anak, diserahkan kepada anak itu sendiri. Ini bahaya. Apalagi keluar dari seorang public figure semacam dia. Alasan lain, saya tidak ingin masyarakat juga terbawa dalam logika yang amburadul versinya Dewi Mangunsong. Saya khawatir nanti masyarakat kita tidak lagi paham apa itu logika karenanya++

++++++++++Saran : sebaiknya Dewi menyampaikan kepada publik bahwa ini adalah keputusan saya, untuk kepentingan saya, urusan saya, dan anda urus diri anda sendiri, gitu. Daripada membuat psotulat-postulat baru yang membawa generalitas kasus pribadi yang sebenarnya harus dipandang secara kasuistik, dan tidak memiliki keabsahan untuk digeneralisasi sebagai ’destiny’. nanti, orang berbondong-bondong cerai. Kan sudah ’destiny’.+++

Winner Jhonshon,
Advokat dan Mahasiswa
Di Bandung

Catatan Perpisahan

Blogged under kehidupan, hikmah hari ini by sinthionk on Tuesday 17 February 2009 at 3:23 am

Catatan Perpisahan
Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.

Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti.

Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.

Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.

September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran.

Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan seterusnya. Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan.

Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.

Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.

Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.

Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya”, seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.

Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya.

Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep “kecuali”.

Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan “kemarin sore”. Kita semua tahu keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing.

Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi berbagi kebenaran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau.

Hari ini, saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan (Fitriawan Ginting - RED). Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan.

Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya. So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”. Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini.

Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.

Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.

Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.

Salam,

~ D ~

Al-Qur’an Dari Zaman ke Zaman

Blogged under al-qur'an, islam by sinthionk on Tuesday 17 February 2009 at 3:00 am

Nuzululul Qur’an pada 17 Ramadhan adalah peringatan turunnya Al-Qur’an ke muka bumi ini. Bukan Al-Qur’an secara utuh seperti yang dibaca umat muslim saat ini, tapi baru wahyu pertama saja. Malaikat Jibril adalah yang ditugaskan menyampaikan wahyu Allah SWT, Surat Al-Alaq ayat 1-5, kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Perintah pertamanya adalah Iqra, Bacalah.

??????? ??????? ??????? ??????? ?????? {1} ?????? ??????????? ???? ?????? {2} ??????? ????????? ??????????? {3} ??????? ??????? ??????????? {4} ???????

??????? ??????????? ??? ???? ???????? {5}

[1] Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan. [2] Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. [3] Bacalah, dan Rabbmulah yang maha mulia. [4] Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. [5] Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Al-Alaq, ayat 1-5)

Sebetulnya ada perbedaan pendapat ulama tentang waktu turunnya wahyu pertama ini. Ada yang meyakini Al-Alaq turun sekitar tanggal 8 atau 18 Rabiul awal, sedangkan riwayat Abu Hurairah menyatakan pada tanggal 17 atau 27 bulan Rajab. Pendapat terakhir, adalah 17 Ramadhan. Namun semua itu tidak terlalu menarik untuk diperdebatkan lebih panjang. kapan pun ayat tersebut turun, Ramadhan atau bukan, umat muslim wajib menjadikannya pedoman dan mengamalkannya.

Pada zaman Nabi Muhammad, banyak sekali penghafal Al-Qur’an, hampir seluruh umat Muslim. Selain karena kecintaan yang amat besar pada Al-Qur’an, bangsa Arab pun terbiasa menghafal sejarah keturunan nenek moyang di masa lalu. Maka kekuatan memori mereka luar biasa.

Tulis-menulis di Mekah sudah lama dikenal sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasul. Para sahabat penghafal Qur’an sedikit demi sedikit mencatat hafalannya secara tidak beraturan. Ketika di Madinah, tawanan Perang Badar juga mengajarkan baca-tulis kepada kaum Anshar, sebagai gganti jasanya mereka dibebaskan. Maka semakin banyak saja yang bisa mencatat wahyu Allah SWT. Dengan adanya perintah-perintah agama yang tertulis ini, Nabi Muhammad kerap meminta kelompok-kelompok yang sudah paham Qur’an untuk pergi dan menyebarluaskannya.

Dahulu, jika ada perselisihan paham mengenai makna ayat Qur’an, umat Islam akan datang ke Nabi atau merujuknya pada ayat Qur’an yang lain. Sehabis wafatnya Rasulullah, biasanya para sahabat dan penghafal Qur’an yang dijadikan sumber kedua. Sehabis Perang Yamamah pada Tahun 12 Hijriyah, banyak sekali penghafal Qur’an yang gugur. Umar bin Khattab, segera menemui Abu Bakar untuk mendiskusikan pengumpulan lembaran-lembaran Al-Qur’an. Dikhawatirkan, jika semua penghafal meninggal dunia, akan muncul keragu-raguan umat terhadap Kitabullah tersebut.

Abu Bakar setuju. Ia pun langsung memanggil ‘Sekretaris’ Nabi Muhammad SAW, Zaid bin Tsabit untuk mengemban tugas mulia itu. Zaid adalah pemuda cerdas yang cepat menguasai bahasa dan baca-tulis sejak remaja. Pada awal pertemuan dengan Rasulullah di usia 13 tahun, ia membuat beliau terkesan dengan kepandaiannya. Sampai ia pun diminta menguasai bahasa Ibrani, menjadi penerjemah Rasulullah ketika berhadapan dengan Bangsa Yahudi. Dan termasuk, menuliskan dan membalaskan surat-surat Rasul, juga ayat-ayat Qur’an. Zaid pula, yang terakhir membacakan Al-Qur’an di hadapan Nabi.

Zaid pun mulai bekerja mengumpulkan ayat Qur’an dari berbagai penjuru, mulai dari yang tertulis di helaian daun, batu putih, pelepah kurma, kulit binatang, rusuk unta dan kambing, serta hafalan orang-orang. Ia melakukannya selama 2-3 tahun. Sebenarnya, dengan banyaknya orang yang diutus menyebarluaskan Al-Qur’an, Zaid sudah bekerja menggunakan jaringan umat untuk mempermudah pengumpulan tersebut. Subhanallah.

Ketika naskah pertama sudah selesai, Abu Bakar menyimpannya sampai ia wafat. Setelah itu, naskah berpindah ke tangan Umar bin Khattab yang mempercayakannya pada Hafshah – putrinya, yang juga istri Rasulullah.

Pada masa Utsman bin Affan, perselisihan tentang Al-Qur’an terjadi. Masing-masing bangsa Arab membaca dengan dialek yang berbeda, dan tidak menerima ketika dikritik. Bahkan mereka saling mengkafirkan. Para sahabat khawatir akan terjadi perpecahan di masa anak-anak mereka nanti. Maka pada Tahun 25 Hijriyah Al-qur’an dikumpulkan lagi, untuk motif yang berbeda, yaitu menyatukan perbedaan. Zaid bin Tsabit sekali lagi diminta bantuannya untuk memeriksa keaslian Al-Qur’an. Zaid cenderung pada pendapat bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan dialek Quraisy. Dahulu, Nabi Muhammad memperbolehkan pembacaan dengan tujuh dialek berbeda, adalah untuk mempermudah dakwah.

AL-Qur’an kemudian disalin sekali lagi dengan hanya menggunakan dialek tersebut, lainnya dimusnahkan untuk mencegah fitnah dan pertengkaran. Beberapa salinannya dikirim ke daerah-daerah lain. Maka itulah Al-Qur’an yang kita baca sekarang. Dipelihara oleh Allah meski sudah melalui bermacam zaman.

Tulisan dimuat pada Majalah Kubah Emas Dian Al-Mahri Edisi III

Abisinia, Hijrah Islam yang Pertama

Blogged under islam, Sejarah by sinthionk on Tuesday 17 February 2009 at 2:44 am

Hijrah pertama kali dalam Islam adalah dari Mekah ke Abisinia. Meski mayoritas rakyatnya beragama Kristen, raja yang memerintah negeri itu arif dan tak ada seorang pun yang dianiaya disana. Instruksi untuk berpencar adalah dari Rasulullah SAW sendiri. Kala itu, umat Islam ditimpa cobaan yang semakin berat oleh penyiksaan, pembunuhan, dan pelecehan Kaum Quraisy. Terlebih lagi setelah Abu Bakar dan Hamzah masuk Islam. Kaum Quraisy semakin takut Islam yang dibawa Rasulullah SAW akan menggeser berhala-berhala yang mereka sembah sebelumnya.

Sebelum peristiwa Hijrah ini terjadi, Kaum Quraisy sempat mengutus ‘Utba bin Rabi’ah, seorang bangsawan terkemuka. Ia mengusulkan dirinya sendiri untuk bicara dengan Muhammad SAW. Mungkin, kemenakan Abi Thalib itu mau menghentikan dakwahnya apabila diberi sejumlah harta. Bahkan ia sempat menawarkan pengobatan kepada Muhammad, apabila ia memang menderita penyakit saraf. Nabi Muhammad membalas perkataannya dengan membacakan Surat As-Sajda.

Alih-alih berhasil membujuk Nabi, ‘Utba kembali ke kaumnya dengan perasaan terpesona akibat mendengar surat tersebut. Ia pun percaya Nabi tidak menginginkan harta kekayaan ataupun sakit, melainkan sedang mengajak umatnya menuju kebaikan, dengan cara yang baik pula. Penjelasan ‘Utba membuat Kaum Quraisy semakin marah. Gangguan terhadap Islam pun semakin menjadi-jadi.

Hijrah ini dilakukan dua kali. Yang pertama terdiri dari sebelas orang pria dan empat wanita. Sebagaimana sudah diprediksi Nabi, mereka mendapat perlindungan dari Raja Najasyi. Ketika mendengar saudara-saudaranya di Mekkah sudah selamat dari gangguan, mereka kembali ke Mekkah. Namun sayang, penyiksaan terjadi lagi sehingga mereka lagi-lagi harus pindah ke Abisinia. Di kali kedua ini, rombongan terdiri dari delapan puluh pria, tanpa didampingi istri dan anak-anaknya. Mereka menetap disana sampai Nabi hijrah ke Yathrib (Madinah)

Kaum Quraisy tidak menyerah begitu saja. Mereka khawatir Islam akan bertambah kuat disana. Beragam hadiah dibawakan untuk Raja Najasyi oleh dua orang utusan, ‘Amr bin ‘l-‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’a. Sebagai balasannya, mereka memohon supaya Raja mengembalikan umat Islam ke Mekkah. Kedua orang ini sebenarnya juga sudah mengadakan kesepakatan dengan para pembesar Istana di belakang Raja. Jika mereka membantu membujuk Raja mengembalikan Umat Islam, para pembesar tersebut akan mendapat bagian harta.

“Mereka datang ke negeri paduka ini adalah budak-budak yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama paduka. Mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka.” Begitulah bujukan dua orang utusan ini, berusaha mengadu domba.

Alhamdulillah, Raja Najasyi menolak memutuskan sebelum mendengar keterangan langsung dari Umat Islam. Ja’far bin Abi Talib adalah yang waktu itu menghadapnya.

“Apa yang membuat kalian meninggalkan agama kalian dan tidak juga memeluk agamaku?” tanyanya.

Jafar berkisah, bahwa kaumnya berada pada masa-masa kelam ketika berhala disembah; bangkai dimakan; hubungan dengan tetangga diputus; serta yang lemah ditindas. Sampai suatu hari Tuhan mengutus seorang Rasul dari kalangannya sendiri. Namanya Muhammad, yang selama ini dikenal sebagai Al-Amin, Yang Terpercaya.

“Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat dibacakan pada kami?” tanya Raja Najasyi lagi.

Lalu Ja’far membacakan Surat Maryam, “Lalu ia memberi isyarat menunjuk kepadanya. Kata mereka: Bagaimana kami akan bicara dengan anak yang masih muda belia? Dia (Isa) berkata : Aku adalah hamba Allah, diberi-Nya aku Kitab dan dijadikan-Nya aku seorang Nabi. Dijadikan-Nya aku pembawa berkah dimana saja aku berada dan dipesankan-Nya kepadaku melakukan sembahyang dan zakat selama hidupku. Dan berbaktilah aku pada ibuku, bukan dijadikan-Nya aku orang congkak yang celaka. Bahagialah aku tatkala aku dilahirkan, tatkala aku mati, dan tatkala aku hidup kembali!”

Para pemuka Istana terkejut karena itu adalah perkataan yang sama dengan yang mengeluarkan Yesus Kristus. Raja Najasyi kemudian berkata, kata-kata ini dan yang dibawa Musa berasal dari sumber yang sama. Ia lalu mengusir kedua orang Quraisy, menolak menyerahkan umat muslim.

Esok hari, ‘Amr bin ‘l-‘Ash kembali menghadap Raja. Ia mengatakan, Islam sudah menghina Isa anak Maryam.

Ja’far kemudian menjelaskan bahwa Islam mengakui adanya Isa. Seperti yang dikatakan Muhammad, Isa adalah hamba Allah dan Utusan-Nya. Ruh-Nya dan firman-Nya yang disampaikan kepada perawan Maryam. Singkatnya, umat Islam mengakui Isa, mengenal Kristen, dan menyembah Allah.

Raja Najasyi kemudian mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di tanah. Dengan gembira ia berujar, “Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak lebih dari garis ini.”

Maka sejak saat itu, Raja Najasyi dengan agama Nasrani yang masih murni, melindungi pertumbuhan Islam di awal kelahirannya. Sebab Islam tidak menafikan agama mereka, melainkan mengakuinya, dan melengkapinya.

Sumber:

Sejarah Hidup Muhammad (Muhammad Husein Haekal)

Litera antar nusa, 1995

Mengenal Tuhan

Blogged under islam, flash back, hikmah hari ini by sinthionk on Tuesday 17 February 2009 at 2:36 am

Muhammad, Al-Qur’an, dan Ramadhan sama sekali tidak menarik. Nama Yesus Kristus, Roh Kudus, dan Bunda Maria jelas punya eksotisme lebih besar. Begitulah keadaan jiwa saya di sekolah dasar, kira-kira 13 tahun yang lalu. Saya tak ingat persis mengapa semua itu bisa terjadi. Kalau dirunut, mungkin karena waktu itu, saya baru belajar shalat.

Islam menjelaskan bahwa maksimal pada umur 7 tahun, seorang anak harus belajar Sholat. Kalau tidak, ia boleh dipukul. Tidak ada yang memukul, karena saya mempelajarinya dengan baik. Setiap ruku, I’tidal, takbir, dengan cepat doa-doa itu terekam sempurna di benak. Satu yang tidak saya mengerti, apa makna semua ini untuk saya?

Salah satu kewajiban umat Islam adalah shalat lima waktu. Itulah jawaban buku teks pelajaran Agama Islam. Itu saja, sebuah kewajiban. Tapi alih-alih menurut, kepala saya malah protes, “Bukannya kamu sholat hanya karena bapak-ibu kamu muslim?” dan bahkan lebih jauh lagi, “Jika kamu dilahirkan sebagai non muslim, akankah kamu memeluk Islam?”

Ego yang kelewat besar – bahkan cenderung menyesatkan kalau dipikir-pikir sekarang ini – menolak untuk hanya jadi sekedar pengikut. Dengan pragmatisnya saya membatin, “Jika Islam memang agama yang paling benar, saya akan memulainya dari belajar agama lain – yang mungkin dinilai salah.” Itulah permulaan dari helaian-helaian kertas berisi soal Agama Kristen dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk anak SD yang saya isi setiap harinya.

Dan apakah saya menemukan keyakinan akan Islam dengan segera? Tidak. Sebagai anak-anak saya lebih sibuk bermain tak jongkok dan lompat karet. Faktanya, saya memulai Islam dengan jadi pengikut. Ikut-ikut shalat. Ikut-ikut pakai jilbab setiap jumat. Ikut-ikut mengaji. Tanpa pernah tahu apa korelasinya untuk saya pribadi.

Agama dan spiritualitas, selalu disebut-sebut sebagai pedoman hidup. Dan selayaknya sebuah pedoman hidup, adalah sebuah tuntutan idealisme bahwa setiap pribadi harus mengerti bagaimana posisi agama dalam diri. Termasuk detil komponen-komponen pendirinya, seperti shalat, dzikir, hijab, wudhu, dan lain sebagainya. Lagi-lagi, dengan ego yang demikian tinggi, saya menolak ikut majelis atau pengajian manapun. Selain karena tatapan aneh yang mereka alamatkan ketika mengutarakan pendapat, saya juga ingin menjaga kejernihan pemaknaan.

Inilah perjalanan awal metode keislaman saya. Dimulai dengan memaknai shalat sebagai suatu kewajiban, saya menemukan shalat sebagai ruang beristirahat. Ketika kesibukan sekolah, pelajaran, dan – kemudian – pekerjaan begitu tinggi, saya menemukan shalat sebagai tempat bersembunyi. Tidak ada yang berani mengganggu. Beranjak dari sana, seseorang pernah berkata, bahwa shalat adalah interaksi langsung kita dengan Tuhan. Maka di sholat itulah, saya menyampaikan apapun yang ingin saya sampaikan. Bahkan kadang saya bercerita banyak hal pada-Nya di akhir bacaan Al-Fatihah dan satu surat lain, di dalam sebuah rakaat, tidak menunggu sampai sehabis tahiyat akhir. Atau seringkali sehabis membaca satu surat, saya tidak langsung rukuk, melainkan tetap berdiri lama sekali. Hanya diam. Sekedar menikmati berdiri di hadapan Tuhan. Saya tidak menghafal doa-doa, saya berdoa semau saya. Jika Tuhan Maha Pintar, Ia akan mengerti.

Hal itu membawa pada pemaknaan akan Tuhan. Selama ini, Tuhan selalu dicitrakan sebagai penguasa yang Maha Agung, tempat kita menyembah, kekuasaan yang jauh lebih tinggi. Saat pertama kali mengenalnya, saya enggan memaknainya demikian. Saya ingin menganggap Tuhan sebagai sahabat. Tempat bercerita dan mengadu sebelum tidur, seseorang yang akan menerima apa adanya. Kadang saya mengajaknya bercanda. Bahkan pernah, saya marah besar karena saya pikir Ia sedang mengabulkan doa saya, ternyata tidak. Ia mentakdirkan lain. Saat itu saya murka, karena rasanya Ia menjadikan manusia boneka semata. Itu adalah sebuah love and hate relationship.

Dalam Islam, Tuhan dikonsepkan Omnipresence, ada dimana-mana. Tuhan itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadimu sendiri. Baru setelah bertahun-tahun menjalankan shalat, perlahan-lahan saya mulai merasa nyaman dengan keberadaan Tuhan. Tidak keberatan Ia selalu ada bersama saya. Sayangnya, itu tidak lantas membuat saya seketika jadi orang saleh. Di titik itu, saya hanya merasa nyaman, bahwa saya tidak sendirian.

Namun justru karena itu, karena Ia tidak pernah meninggalkan saya, pelan-pelan saya merasa mulai mencintai-Nya. Percaya padaNya, bahwa Ia akan ada memeluk saya, bahkan pada saat saya tidak bisa memaafkan diri sendiri. Merindukan waktu shalat, merindukan saat bertemu langsung dengan-Nya melalui cara yang Ia tentukan. Menyenangi menyebut diriNya di setiap nafas. Menghormati-Nya, mengakui keagungan-Nya dan – otomatis – mengurangi membuat lelucon tentangNya (yang dulu saya alibikan dengan, Tuhan juga senang humor, Ia tahu saya cuma bercanda)

***

Konsep Tuhan, adalah sesuatu yang amat berguna untuk kestabilan hidup manusia. Ide akan Tuhan yang tak kasat mata itu sangat menolong kekosongan dan kehausan psikologis. Itulah mengapa Cinta hanya diperuntukkan untuk Dia yang Maha Sempurna, karena hanya Dia yang bisa memenuhi semua kebutuhan dan keinginan manusia. Manusia lain, hanya ditakdirkan untuk saling menyayangi dengan ketidaksempurnaannya.

Konsep inilah, yang membuat saya bertahan dalam Islam sampai sekarang. Bahwa Islam memberi ruang yang begitu luas untuk pemaknaan, meski tidak semua bisa diinterpretasikan secara bebas. Untuk berbeda. Untuk berpikir. Untuk berijtihad. Justru Islam yang luas, membawa saya pada keinginan untuk mengenalnya lebih jauh. Membaca kitabnya. Mengenal Nabi-nabinya. Islam adalah naungan yang begitu besar, apakah mungkin Islam tidak benar? Bicara tentang mekanisme perjalanan, ini semua bukan hanya tentang akal dan logika. Menemukan makna-makna juga menggunakan anugrahNya yang satu lagi, yaitu rasa.

Sampai sekarang, saya tak sepenuhnya yakin apa saya sudah berada dalam Islam yang ‘paling benar’. Apakah pemaknaan-pemaknaan tersebut sudah berada tepat pada jalurnya. Atau, apakah metode pemaknaan yang saya gunakan itu benar. Dalam pilihan, selalu ada resiko. Tentu saja, sebagai manusia kita hanya bisa berikhtiar. Perjalanan ini belum berakhir. Bersyukurlah, jika pemandangannya indah.

Tulisan dimuat di Rubrik Inspirasi, Majalah Madina Edisi Oktober

Perang Khandaq

Blogged under islam, Sejarah by sinthionk on Tuesday 17 February 2009 at 2:25 am

Khandaq berarti Parit. Nama ini digunakan untuk menyebut sebuah perang yang terjadi pada tahun ke-5 setelah Hijrah ke Madinah (Tahun 627 Masehi). Perang Khandaq adalah perang umat Islam melawan pasukan sekutu yang terdiri dari Bangsa Quraisy, Yahudi, dan Gatafan. Perbandingan pasukan tidak seimbang. Umat Muslim hanya berjumlah 3000 orang, sedangkan lawannya terdiri dari 10.000 orang.

Perang Khandaq disebut juga Perang Ahzab, yang artinya Perang Gabungan. Muaranya adalah ketidakpuasan beberapa orang Yahudi dari Bani Nadir dan Bani Wa’il akan keputusan Rasulullah SAW yang menempatkan mereka di luar Madinah. Dari Bani Nadir adalah Abdullah bin Sallam bin Abi Huqaiq; Huyayy bin Akhtab; dan Kinanah ar-Rabi bin Abi Huqaiq. Sedangkan dari Bani Wa’il adalah Humazah bin Qais dan Abu Ammar.

Langkah pertama adalah menghasut Bangsa Quraisy yang sudah lama memusuhi Nabi. Semula pihak Quraisy ragu karena adanya Bani Quraizah, kaum Yahudi lain yang terikat perjanjian bersama mempertahankan Madinah. Wakil Bani Nadir dan Bani Wa’il tersebut menjamin bahwa Bani Quraizah sekedar mengelabui Nabi. Dan untuk menghilangkan keraguan, mereka menyatakan agama Quraisy lebih baik daripada Islam. Terhanyut nafsu membalas kekalahan-kekalahan di peperangan sebelumnya, Bangsa Quraisy maju.

Setelahnya Pihak Yahudi mencari simpati dari Kabilah Gatafan yang terdiri dari Qais, Ailan, Bani Fazara, Asyja’ , Bani Sulaim, Bani Sa’ad, dan Ka’ab bin Asad. Kabilah Gatafan bersedia ikut, dengan harapan mereka akan mendapat sebagian harta rampasan perang seperti yang dijanjikan Kaum Yahudi.

Berbekal pasukan besar, mereka berangkat ke Madinah dipimpin Abu Sufyan. Umat Islam ketika itu berhadapan dengan dua buah pilihan yang sama beratnya. Mereka tidak mungkin menyongsong pasukan lawan karena sama saja bunuh diri. Namun untuk bertahan pun, jumlah mereka terlampau sedikit.

Pertolongan Allah datang melalui sahabat Nabi yang juga ahli strategi perang, Salman Al-Farisy atau Salman dari Persia. Dengan pengalaman akan seluk-beluk peperangan di daerah luar Arab, beliau mengusulkan menggali parit di sekeliling Madinah sebagai sistem pertahanan. Usul tersebut disetujui Rasulullah SAW – bahkan beliau juga ikut memegang linggis dan menggali parit yang besar dan dalam. Inilah asal muasal nama Perang Khandaq.

Selama membangun parit dalam waktu 6 hari, pertahanan kota di bagian lain diperkuat. Wanita dan anak-anak dipindahkan ke rumah yang kokoh dan dijaga ketat. Bongkahan batu-batu diletakkan di samping parit untuk melempari pasukan lawan. Sementara sisi kota yang tidak dibuat parit, diserahkan pengamanannya pada Bani Quraizah.

Penerapan strategi ini sangat tepat sebab pasukan lawan tidak mengetahui pertahanan menggunakan parit. Sebelumnya, mereka biasa berperang dengan tenik maju-mundur; menyerang, dan lari. Terbukti strategi ini cukup bisa membendung para sekutu. Selama satu bulan penuh, tidak ada kontak langsung antara kedua pihak kecuali saling lempar panah. Beberapa kali ksatria Quraisy menyebrang parit untuk perang tanding. Ali bin Abi Thalib dan pasukannya menutup perang itu dengan membunuh Amr bin Abdul Wudd dan kawan-kawannya.

Saat keadaan genting, tak disangka Bani Quraizah berkhianat. Kaum Yahudi itu membatalkan perjanjian secara sepihak atas hasutan Huyayy bin Akhtab. Dengan membelotnya mereka, suplai logistik menurun. Umat Islam pun panik. Namun Nabi Muhammad SAW menenangkan, mengingatkan akan datangnya pertolongan Allah SWT. Menurut riwayat Abdullah bin Auf, beliau berdoa, “Ya Allah, Tuhan yang menurunkan wahyu, yang Maha Cepat menuntut perhitungan…kalahkan Pasukan Ahzab. Kalahkan mereka dan menangkanlah kami atas mereka.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pertolongan Allah yang kedua lahir melalui kepiawaian Nu’man bin Mu’az, seorang dari Kabilah Gatafan yang menjadi muallaf tanpa sepengetahuan teman-temannya. Ia meminta tugas kepada Nabi, yang kemudian mengutusnya menemui pihak lawan untuk menurunkan semangat perang mereka.

Pertama-tama, ia menemui Bani Quraizah. Kepada mereka, Nu’man menyarankan agar mereka meminta jaminan pada Pihak Quraisy dan Gatafan bahwa mereka tidak akan ditinggalkan berperang sendirian melawan Umat Islam. Jaminannya berupa beberapa orang pimpinan. Sedangkan kepada Pihak Quraisy dan Gatafan, Nu’man menyatakan Bani Quraizah menyesal mengkhianati Kaum Muslimin. Kemudian Bani Quraizah meminta jaminan tersebut untuk diserahkan pada Kaum Muslimin, untuk memperbaiki hubungan dengan mereka nanti.

Abu Jahal kemudian mengutus Ikrimah din Abu Jahal pada malam Sabtu, 5 Syawal, dengan pesan bahwa besok penyerangan ke Kaum Muslimin harus dimulai. Utusan itu pulang kembali ke Abu Sufyan membawa jawaban yang membuatnya naik pitam, bahwa Kaum Yahudi tidak bekerja apa-apa pada hari Sabtu!

Pada suatu malam, badai datang. Angin topan mengacak-ngacak perkemahan pasukan Ahzab. Mereka ketakutan, menyangkan Kaum Muslimin akan datang menyerang pada saat itu. Abu Sufyan segera memerintahkan mereka kembali ke Mekkah. Begitu juga dengan Kabilah Gatafan.

Kaum Muslimin segera menyebut Syukur atas pertolongan Allah SWT. Bertambahlah keimanan mereka dan kepercayaan bahwa Allah SWT selalu memenuhi janji-Nya.

Tinggallah Bani Quraizah sendiri. Nabi Muhammad dan pasukannya segera mengepung Kaum Yahudi tersebut selama 25 hari. Ketika harapan makin tipis, Pimpinan Bani Quraizah, Ka’ab bin Asad, melontarkan 3 pilihan pada kaumnya: (1) menyerah dan mengikuti agama Nabi Muhammad SAW; (2) Membunuh kaum wanita dan anak-anak, kemudian berperang melawan Umat Islam; atau (3) Tunduk kepada keputusan Nabi Muhammad SAW. Pilihan mereka adalah yang ketiga.

Nabi Muhammad SAW mempercayakan persoalan ini pada Sa’ad bin Mu’az. Ia memerintahkan mereka untuk melucuti senjata dan turun dari benteng. Sa’ad memutuskan mereka yang terlibat kejahatan perang akan dihukum mati, sedangkan kaum wanita dan anak-anak ditawan. Harta benda dibagikan pada Kaum Muslimin. Sebuah keputusan yang disetujui Nabi.

Subhanallah. Beginilah cara Islam berperang. Ketika pasukan hanya sedikit, kecerdasan serta ketaqwaan umat-lah yang berbicara. Begitu pula setelah usai, perhitungan kejahatan perang dilakukan dengan tegas dan seadil-adilnya tanpa maksud pembalasan dendam. Wallahu ‘Alam Bishawab.

Sumber : Ensiklopedi Islam, Vol.3

Next Page »
Proudly powered by Wordpress - Theme Triplets Identification band, the boyish style by neuro